Friday, February 3, 2012

Kata Mama Gak boleh kelihatan Giginya kak.....!!!

Muka mungil, gigi ompong, mata sipit dan tak pernah lepas dengan senyumanya yang mungil terkadang muncul menyapaku di sela jam istirahat sekolah membuat aku rehat sejenak melepas lelah. "Kakak...!" Sapanya dari balik pintu sambil malu-malu menghampiriku yang sedang sibuk dengan setumpuk kerjaan yang harus aku ketik dan diselesaikan hari itu. "Haii... Coba kakak Lihat, sudah tumbuh belum giginya. atau masih di pinjem sama tikus...??" canda ku sambil tertawa.

Sejenank aku teringat ketika dia dan teman-temanya di tugaskan untuk memperagakan desain busana Pramuka dalam rangka Rakernas yang diadakan di Kwarnas 11 hingga 20 Maret 2011. Loisa, Ani, Daffa dan Arin setelah selesai pengukuran baju di latih untuk berjalan memperagakan rancangan busana Pramuka, bersama beberapa teman lainya dari gugus depan lain mereka dengan semangat mengikuti kakak-kakak yang melatih mereka untuk berjalan memperagakan busananya.
Perlahan ku dekati Lois yang sedang bermain bersama temanya Ani setelah berlatih, "Lois coba kakak liat senyumnya" ucap ku, "kan nanti Lois harus senyum gak boleh ceberut, coba kakak juga mau liat senyum Ani" lanjut ku lagi. bersama-sama Lois dan Ani memperlihatkan senyum mereka " Nah... Ani bagus tuh senyumnya... kok Lois cuma sedikit senyumnya, giginya mana...??" rayu aku kepada Lois. "Begini kaka..." ucapnya sambil memperagakan senyum di bibirnya, tetap tersenyum tanpa gigi. "Kok cuma sedikit, di lebarin dong kayak Ani, biarin giginya keliatan kan cantik" ungkapku, "Iya Lois kamu tuh cantik kalau senyum, keluarin dong gignya..." sambut Arin lagi menambahi ucapanku.

Seketika Lois mendekatiku dan berbicara berbisik di telingaku, "Kakak kata mama gak boleh kelihatan giginya, jadi senyumnya begini aja mmm...." ucapnya sambil memperagakan. "Loh memang kenapa, kan lebih manis kalau Lois senyunya lebih lebar, coba..." rayu ku lagi. "Kata mama gak boleh kelihatan giginya kak, soalnya gigi Lois Ompong....!!!" ucapnya lagi dengan gaya anak-anaknya. Seketika aku tertawa "ha.ha.ha.ha... Oalaaahhh... Lois... Karena Ompong toh...." ucapku sambil tertawa. cepat aku tersadar agar dia tak merasa malu, ku hentikan tertawaku " Gak apa-apa Lois, biarpun ompong Lois tetap cantik kok, malah Lucu... Coba deh senyum pasti pada suka sama senyum Lois" ucapku menenangkan. sekali lagi Lois berusaha tersenyum di lihat oleh kakak-kakak lainya yang ikut serta dalam peragaan busana ini, seketika mereka pun tertawa melihat senyum Lois yang polos.

Jangan Takut tersenyum ya Lois, senyum kamu manis kok....walau tanpa gigi kami semua suka melihatnya...

Thursday, January 12, 2012

Sejenak Mengingat Sahabat

Pagi ini sesuai jadwal saya berencana untuk mengurus perpanjangan SIM (Surat Izin Mengemudi Mobil) yang sudah habis masa berlakunya pada hari kelahiran saya nanti. Saya pun berangkat menuju parkiran sebuah Mall di Depok, sesuai Jadwal di sanalah mobil keliling SAMSAT akan singgah. Sampai di sana sudah ramai orang menunggu antrian, seketika saya langsung mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian, setelah nomor antrian saya dapati, saya kembali duduk pada kursi antrian sambil menunggu giliran nomor saya di panggil.

Suasana pagi yang masih membuat saya terkantuk membuat saya tertuju pada suatu pandangan, seketika saya menangkap sosok wanita yang selama ini saya rasa pernah mengenalnya, Ketika saya ingin beranjak menegurnya seketika terhenti, dia membalikan tubuhnya dan ternyata orang itu bukan dia, saya pun mengurungkan niat saya untuk menegurnya karena ternyata bukan dia. Anna, mungkin nama ini tak asing dalam hidup saya, mungkin karena suasana pagi hari dan sedikit mengantuk membuat saya salah dalam melihat, atau entah terdorong oleh rasa rindu dalam hati ini kepadanya.

Anna dan Heny, dua sahabat dari masa lalu yang pernah mengisi hari-hari saya ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Sebuah sekolah negeri yang terhitung terbaik di Jakarta Timur ini sudah mempertemukan kami dan mengukir cerita indah diantara kami. Anna yang berasal dari keluarga militer yang cukup di pandang terlihat lebih unggul dalam segala hal, Henny yang berasal dari keluarga sederhana sebagai penengah diantara kami sedangkan saya yang terlahir dalam lingkungan keluarga pendidik selalu menentang pemikiran mereka (he.he.he....tapi tetep akur).

Menyusuri sepanjang jalan kramat jati bersama, gedung sekolah di pinggir jalan Hek yang kini berdiri megah dan sudah banyak berubah itu menjadi saksi persahabatan diantara kita. Di bawah tiang gawang Basket itu kita pernah bersama, bersenda gurau sambil menanti bel masuk sekolah dan di sanalah kita pernah mengukir kisah indah persahabatan.

Tak bisa di pungkiri bertemu kalian membuat saya lebih percaya diri menghadapi kehidupan, walau pun keluarga saya sering memprotes kedekatan kami tak membuat serta merta merubah pandangan saya seperti yang di tuduhkan keluarga saya. Maklum saya bersal dari keluarga pendidik yang memiliki dasar agama yang kuat, membuat mereka berbeda pandangan dengan saya.

Di bangku sekolah menengah atas (SMA) kami terpisah karena orang tua saya tak ingin saya berada di tempat yang sama dengan mereka, tetapi hal ini tak membuat kami kesulitan untuk tetap bertemu. sepulang sekolah, bahkan saya sengaja diam-diam pindah dari salah satu lembaga bimbingan belajar yang terkenal bagus di Jakarta ke salah satu bimbingan belajar biasa di mana mereka berada (ini membuat ibu saya kemudian marah pada akhirnya).

Suatu hari Anna memperkenalkan saya pada seorang temanya, lelaki yang baik, sederhana dan pintar bermain gitar. Dua kali bertemu dia mengajak saya untuk nonton di sebuah theater film, di sana ternyata dia menyatakan cintanya kepada saya. Seperti wanita muda pada umumnya, saya merasa tersanjung karenaya, Kita baru dua kali bertemu dan saya belum begitu mengenalnya, tak mungkin secepat itu saya percaya dia menginginkan saya lebih dari sekedar teman. "Gak semudah itu gue percaya dia suka sama gue dan pengen jadi pacar gue na...!" ucapku meragukanya. Anna terus meyakinkan ku akan perasaan lelaki itu kepada ku, bahkan Anna membawaku ke rumahnya dan ternyata sudah ada dia di sana, lelaki itu kembali meyakinkan saya bahkan dia menciptakan lagu khusus untuk saya dan menyanyikan lagu yang berjudulkan nama saya itu dengan alat musik gitarnya, layaknya ABG lainya (Anak Baru Gede) tersanjung tentu mendengar lantunan lagu yang dia buat untuk saya. "Gue rekam ini di studio nanti kasetnya gue kasih ke elo buat kenangan lo maukan dateng ke studio besok", ucapnya lagi.

Pagi itu sesuai janji saya akhirnya menuju lokasi tempat kami berkumpul untuk kemudia ke studio rekaman, tetapi karena suatu hal saya terlambat datang dan ternyata saya sudah di tinggalkan. Karena kesal mereka tak menunggu, saya kemudian kembali pulang. tak berapa lama dia menelpon saya menjelaskan kenapa mereka memutuskan untuk tidak menunggu saya. Sejenak saya marah dan kesal dan berujung pada penolakan saya akan perasaan lelaki itu.

Kemudian Anna mengingatkan keputusan yang di ambil pada saat saya emosi, karena perdebatan itu akhirnya kami terpisah. tak pernah lagi saya temui dirinya di bimbingan belajar bahkan tak pernah lagi kami bertemu sepulang sekolah. Karena itu akhirnya saya memutuskan kembali ke bimbingan belajar tempat pilihan ibu saya semula.

Tiga tahun tak bertemu selepas SMA saya meneruskan keperguruan tinggi, entah mengapa saya begitu ingin bertemu dengan mereka, Rindu ini membawa saya untuk berani menelpon Anna di rumahnya. Sekali...mereka bilang salah sambung (gak mungkin fikirku, karena aku hafal sekali nomor ini), dua kali...tak ada di rumah jawab mereka di sana dan kemudian yang ketiga kalinya baru lah... mereka menjelaskan apa yang terjadi pada Anna, Ingin menangis rasanya, bagai di sambar petir hati ini merasakan kepedihan orang tuanya yang bercerita panjang lebar mengenainya. Tak hentinya saya berfikir, kemana kamu, dimana kamu, kenapa kamu lakukan ini kepada orang tua yang sudah membesarkan kamu.

Kemudian saya beranikan diri menghubungi Henny lewat surat dengan harapan dia tahu ada dimana Anna (karena saya tidak tahu telpon Henny dan saya tak tahu apakah Henny masih tinggal di sana atau tidak karena yang saya tahu dia dan keluarganya mengontrak rumah di sana). Mendapatkan balasan dari Henny pada akhirnya membuat saya sedikit lega, sambil terus bertanya-tanya mengapa ini kamu lakukan. Akhirnya saya meminta kepada Henny untuk bertemu dan bersama-sama menjenguk Anna. Sesuai janji kami akan bertemu di suatu tempat, sekian lama saya menunggu tak saya temui kalian di sana, entah apa mungkin kalian memperhatikan saya dari kejauhan atau kah tidak, atau mungkin kalian benar-benar tidak datang karena belum siap bertemu dengan saya.

Saya akhirnya pasrah, mungkin benar kalian belum siap bertemu dengan saya. Setidaknya saya tahu kabar mereka baik-baik saja, saya memutuskan fokus pada kelulusan saya dari gelar sarjana. Lima tahun kemudian saya mendapatkan telpon dari Anna dan Henny, begitu bahagianya saya mendengar suara teman yang selama ini saya rindukan untuk bertemu. Akhirnya kami berjanji bertiga untuk bertemu kembali di sebuah Mall.

Seperti layaknya tiga orang sahabat yang tak pernah bertemu, saya terus berangan-angan membayangkan pertemuan nanti. Tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari suami Anna, dia menceritakan masalah rumah tangganya bersama Anna dan meminta tolong kepada saya agar saya ikut denganya sebagai penengah untuk menyelesaikan masalah mereka itu (karena dia tahu saya punya janji untuk bertemu dengan Anna), yang sudah menjadi kompleks karena Henny juga sudah ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka. Tentu saja saya menolak, buat saya masalah keluarga adalah intern mereka dan saya tak berhak ikut campur di dalamnya, apa lagi setelah lima tahun tak bertemu, tiba-tiba masuk dalam masalah rasanya tak baik untuk saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak datang saat itu dengan harapan kalian dapat selesaikan urusan rumah tangga kalian sendiri.

Maaf kan saya Anna dan Henny malam itu saya tak datang, karena saya yakin kalian bisa selesaikan masalah kalian sendiri. Saya hanya lah teman dari masa lalu yang begitu merindukan kalian, mungkin saya tak seperti Henny yang selalu ada di sisi kamu untuk membela kamu, tetapi saya selalu disini menanti kalian untuk siap bertemu dengan saya. Menyambung tali silaturahmi yang terputus, mengenang masa-masa kebersamaan. Walau Visi kita mungkin kini berbeda, tetapi saya yakin jauh di lubuk hati kalian ada saya teman terbaik kalian.

Thursday, April 14, 2011

Kiss from my nephew

Mungkin bener ya kata orang, anak kecil itu perasaanya kuat dan tak bisa di bohongi. Dia akan tahu kita benar-benar tulus menyayangi dia apa enggak. Seperti biasa setiap hari Jumat sampai dengan Minggu si kecil Karim berusia 3 (tiga) tahun, pasti dititipkan bundanya di rumah, karena bunda harus tugas sebagai dokter jaga di sebuah klinik.

Satu hari ketika aku sakit demam, si kecil Karim hanya bermain dengan komputer sendirian, sambil menari-nari dan bernyanyi melihat Barney beraksi di dalam adegan sebuah film anak-anak. Bosan bermain komputer dia kembali duduk di sebelahku sambil memperhatikanku yang tidak bergerak dari tidur karena demamku, aku tahu dia sedikit kawatir melihat aku yang hanya diam tertidur tanpa mengajaknya bermain seperti biasa, kemudian ia kembali berlari dan bermain bola dengan pengasuhnya di luar.

Setelah lelah bermain bersama pengasuhnya, ia kembali duduk di sampingku, hembusan nafas dari hidungnya menyadarkan aku, sambil berusaha membuka mata ku lihat dia tersenyum lalu mencium pipiku...cup..., kemudian dia bilang " Dede mo bobo deket Ibu ya..(my Nephew call me Ibu)", sambil terus memperhatikan ku tak lama dengan style bobo nunggingnya dia tertidur pulas didekatku.

Ya ampun...!!! wajah lucunya dan kecupan tulusnya di pipi ku sungguh membuat ku kembali semangat untuk sembuh, agar aku bisa kembali bermain bersamanya. Thanks My Nephew I know u luv me, aku tahu kamu pasti kawatir dan rindu ingin bermain bersamaku kembali, I luv U to Honey...muah..muah...

Sahabat Adalah Kekayaan Yang Sebenarnya

Dimanapun aku berada, kemanapun aku pergi, satu yang terpenting harus aku temui, yaitu kekayaan yang bernama Sahabat.

"Bak...mbak...duduk di sini aja...", Lebih dari sepuluh tahun yang lalu mungkin tak pernah terfikirkan oleh ku kata-kata ini yang akhirnya mengubah segalanya. Seorang teman baru di kelas ku bernama Lucy menyapa dengan lembut mengajak untuk duduk di sebelahnya, dengan gaya yang sedikit jaim (Jaga Image) aku menghampiri dan saling berjabat tangan memperkenalkan diri, sambil berbincang-bincang sedikit mengenai dirinya aku yang saat itu tak terlalu banyak berbicara hanya tersenyum memperhatikan celotehanya. Lucy teman terdekat ku yang telah merubah diri ku yang pendiam jadi bawel, dari aku yang katro jadi gaul he.he.he....

Sepuluh tahun yang lalu kaki-kaki muda kami menyusuri koridor kampus bersama. Terkadang tawa, canda, gosip dan kenakalan menghiasi hari-hari kami. Masi ingat ke jahilan yang Lucy buat ketika motor Arrez salah satu teman yang setia selalu mengantar dan jemput kami ke kampus, di belakang motor tepatnya di plat nomor di tuliskan "Ojeg Langganan", sesampainya di rumah Arrez baru sadar kalau di motornya ada tulisan itu langsung menelpon Lucy sambil marah-marah, tapi bukan lucy namanya kalau gak jail dan ini tak membuat kami benar - benar marah karena ulahnya.

Tak hanya bersamanya, ada beberapa teman lainya yang akhirnya satu per satu dekat dan menjadikan kami sekumpulan anak muda yang menjadi perhatian orang-orang di sekitar kami (maklum dari sekian banyak teman lelaki hanya kami berdua perempuan yang sering berkumpul bersama mereka), ada Jimmy yang Fiktor dan bawel, ada O'ge dengan kaca matanya melorot, ada Andri yang galak, Topan paranormal yang tampil trendy, Yun yang pendiam tapi jago komputer, Tino yang jago english dan programer, Willy yang narsis, Empriet yang cempreng, Bayu yang pelupa dll. (kangeeenn... banget sama kalian...).

Gaya tomboy, tubuh jangkung dan kurus serta T-shirt plus jeans belel gak pernah tertinggal dalam keseharian kami. Pernah ada seorang teman bernama Dedy menggoda kami (aku dan Lucy) dengan sebutan gawang Bola, karena seringnya kami kemana-mana berdua membuat mereka menyebut kami mirip gawang bola alias tiang gawang, "Awass... teriaknya kepada kami...gue mau tendang bola neh jangan deket-deket lo berdua" ucapnya sambil mengoda dengan gayanya yang ingin menendang bola masuk ke arah gawang, serentak kami pun tertawa di buatnya.

Hari demi hari persahabatan pun kian terjalin, tanpa di sadari berkumpul bersama teman-teman merupakan hal terpenting di sela-sela waktu kuliah kami yang berat walau kami berasal dari kelas dan fakultas yang berbeda - beda, nongkrong di warteg yang sama, bolos dari mata kuliah yang membosankan dan jalan-jalan ke bogor (menghirup udara segar), ke kota (pusat penjualan komputer) atau sekedar bermain games di Timezone (wahana permainan) adalah cara kami melampiaskan ke penatan. Maklum stasiun kereta Pondok cina begitu dekat dengan kami sehingga memudahkan kami untuk pergi di sela-sela kepenatan kami karena tugas kampus yang padat.

Sepuluh tahun yang lalu andai saja gedung yang berdiri di akses UI itu bisa berbicara, mungkin dia lebih pandai menceritakan bagaimana har-hari yang kami lalui bersama. Tukang ojeg di sekitar pun tahu karena kami sering terlambat pergi ke kampus, untuk mempercepat waktu kami gunakan ojeg untuk pergi ke kampus, Stasiun kereta api pondok cina adalah saksi kami melepas kepenatan, tak cukup rasanya diungkapkan lewat tulisan.

"Maaf ya..." kata-kata ini pun tak luput dari hari-hari kami dahulu, bukan hanya beradu mulut dan pertikaian biasa, tetapi mencintai orang yang sama pun pernah terjadi di antara kami. Begitu pula cinta dengan teman satu gank, karena gank kami terdiri dari lelaki dan perempuan yang sering melewati waktu bersama, sudah saling mengerti satu dengan yang lain, wajar rasanya bila salah satu atau salah dua dari kami terjalin perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Namun sungguh Allah SWT telah menjaga persahabatan ini hingga bisa mengalahkan pertentangan dan pertikaian yang ada. Perbedaan tidak menjadikan kesulitan yang berarti, namun menjadikan semua itu indah jika kami kenang.

Kini lebih dari sepuluh tahun persahabatan kami terjalin, melangkah bersama, bercerita bersama, berbagi dalam susah dan senang, tingkah iseng dan godaan nakal kami merupakan kenangan indah. Mungkin mereka tak pernah menhitung berapa tahun yang kami lewati bersama dan mungkin mereka juga tak pernah mengingat lagi saat-saat pertama kami bertemu, tetapi aku selalu berharap kisah kami tak akan pernah berakhir karena lebih dari sepuluh tahun kita mengukir kisah yang menurut kalian adalah hal yang kecil dan simple namun berharga buat ku.


Karena Sahabat adalah tempat dimana kita bisa merasa nyaman berada di antaranya, tanpa harus melihat kekurangan dan kelebihan yang di miliki, Karena Sahabat selalu menerima kita apa adanya dan melengkapi sisi kebutuhan jiwa, Karena Sahabat yang membuat perbedaan di antara kami menjadi indah. Teruntuk teman - teman ku di S1 (graduate school). Terima kasih....