Friday, October 12, 2012

Serunya Pulang Kampung

Semenjak lahir sudah menetap di Jakarta membuat saya tak begitu banyak tahu akan kampung halaman leluhur saya. Setiap Pulang kampung hanyalah Medan dan Palembang yang saya selalu kunjungi, maklum nenek dari Ibu saya Tinggal dan menetap di Palembang sedangkan nenek dari Ayah saya tinggal dan menetap di Medan.

Ternyata setelah di telusuri, leluhur saya juga berasal dari Minang Kabau Sumatera Barat, di sana sudah tak ada lagi saudara dekat, yang ada saudara jauh, sepupu dari nenek-nenek saya. Wajar bila pada akhirnya saya lebih banyak pulang kampung ke Palembang atau Medan.


Jadilah pada akhirnya kami memutuskan untuk menyambung kembali tali silaturahmi ke tanah leluhur yang tak pernah kami kunjungi. Dengan menaiki si hijau yang selalu setia menemani kemana pun kami pergi jauh, akhirnya kami tiba di Si junjuang untuk sehari beristirahat di rumah saudara sepupu saya.



 Perjalanan menuju Maninjau kami teruskan pada esok harinya, sepanjang perjalanan kami di suguhi pemandangan yang indah, perjalanan yang melewati danau Singkarak membuat kami tertarik untuk makan dan mengambil gambar di sana. Indahnya ciptaan Allah SWT yang tak dapat tertndingi oleh siapa pun, namun sayang tak tertata rapi banyak sampah dan tempat - tempat berjualan yang tak beraturan di sepanjang jalan yang mengelilingi danau singkarak sedikit merusak pandangan saya, namun indahnya bukit yang mengelilingi danau bagaikan penuh misteri yang sulit di ungkapkan.

 Kami teruskan perjalanan menuju danau maninjau, sesampainya di kelok 44 kami pun di suguhi pemandangan yang tak kalah serunya, tak henti-hentinya saya berusacap syukur dan mengagumi keindahan ciptaan Allah SWT dari atas bukit. Maha besar Allah yang menciptakan alam yang begitu indah tiada duanya.

Berbagai negeri sudah saya arungi, tetapi tak ada yang seindah kampung leluhur, danau yang begitu luas di kelilingi oleh kampung-kampung dan bukit-bukit yang mengundang adrenalin kita. Awan yang berarak menyelimuti puncak tertinggi bukit-bukit yang mengelilinginya, bagaikan berjalan di atas awan saya berada di bukit itu. Seakan tak mau ketinggalan moment tersebut, dengan camerra hand phone saya terus mengambil pemandangan itu dari atas bukit kelok 44.


Sesampainya di bawah, ujung dari kelok 44 saya semakin dekat melihat danau maninjau nan indah, sawah yang menguning, dan air yang mengalir deras menambah suasana makin mempesona mata saya, ternyata kampung halaman saya indah, tak ada yang dapat menandingi keindahanya. Tiba kami di rumah leluhur, yang merupakan rumah adat turun temurun dari leluhurku. Seorang mamak (Uncle) saudara sepupu dari Ibu ku yang menempati rumah itu sendirian. Setelah isterinya meninggal menurut adat dia harus kembali ke rumah leluhurnya tak boleh menetap di rumah isterinya kembali (bila seorang pria minang menikah dia harus tinggal di rumah keluarga isterinya).

Rumah panggung yang terbuat dari kayu, entah berapa lama usianya saya tak tahu, yang pasti itu sudah dari neneknya nenek saya (ha.ha.ha....sudah bingung menjelaskanya). di belakang rumah terdapat sungai yang sudah terlihat banyak semak-semak tak terurus, maklum yang menempati rumah seorang lelaki, yang pasti tak setelaten wanita dalam merawat rumah.

Dari depan rumah kita akan melihat danau di bawah sana dengan jajaran bukit yang mengelilinginya. Diselimuti awan di puncak bukit tertingginya. Gambar ini saya ambil di waktu subuh. Terlihat pagi hari yang indah

jika kita lihat ke arah atas akan terlihat jajaran bukit yang di selimuti awan biru.

Keesokan harinya saya dan keluarga berkeliling melihat kebun dan sawah yang sudah di miliki turun-temurun dari nenek Moyang saya. Menurut mamak (uncle) harta ini milik keturunan kami tak boleh di jual karena ini harta perak yang harus di jaga turun temurun, jika ada keturunan kami yang susah di rantau boleh lah pulang menggarap sawah dan kebun kami untuk kehidupanya. Siapa yang berhasil di rantau, hendak lah menjaga warisan tanah leluhur ini agar tidak hilang di ambil orang atau punah di makan waktu. Karena tanah dan perkebunan adat kebayakan tak memiliki sertifikat hak milik, hanya berdasarkan kepercayaan turun temurun maka sebagai keturunanya kami berhak tahu batas-batas mana harta perak leluhur kami secara adat.

Sawah yang terbentang luas di pinggir danau nan indah itu salah-satunya miliki keturunan kami, kebun dengan di tanami sekitar 30 pohon durian yang sedang berbunga masih di sambung dengan sawah yang menuju tepian jalan, dan satu lagi sawah yang tidak terurus di lereng bukit yang sering terjadi longsor. Mengetuk rasa iba saya akan kampung halaman yang tak pernah saya kunjungi, dahulu nenek moyang saya berjuang untuk mendapatkan tanah ini agar anak dan cucunya tak terlantar, bisa di bayangkan jaman pejajahan mulai dari belanda kemudian Jepang, dengan sekian hektar kebun dan sawah yang mereka garap, mereka jaga untuk anak dan cucu mereka kini terbengkalai penuh rumput-rumput liar dan gundukan tanah tak berguna.

Bermain dengan anak sapi tak terlewatkan buat saya, dua anak sapi yang baru saja di lahirkan itu terlihat dari tali pusatnya yang belum putus, membuat Karim keponakan saya begitu bahagia. Baru kali ini Karim melihat anak sapi, karena itu dia antusias sekali memberi makan kedua anak sapi itu dan sebentar-sebentar keisengan tanganya memuku-mukul tubuh kecil si sapi. Tanpa di sadari Karim si anak sapi menyenangi tingkah karim yang menggoda mereka, di kira mengajaknya bergurau kedua anak sapi itu tiba-tiba mengejar karim, saya yang sewaktu itu sedang memegang camerra reflek ingin menarik karim agar tidak di lompati anak sapi itu, namun sayang saya tak melihat lubang di hadapan saya sehingga akhirnya saya terjatuh dan tali sandal saya terputus, karim masih terus berlari-lari sambil menangis karena di kejar oleh dua anak sapi itu, untung saja ada sepupu saya yang tinggal di kampung dan sudah terbiasa dengan anak-anak sapi itu, dia yang kemudian menarik karim keponakan saya yang iseng itu hingga aman dari kejaran anak-anak sapi.

 "urang rantau lakeh lah pulang...." lagu ini mungkin tak asing lagi bagi mereka orang minang di rantau, namun sayang ajakan dari lagu ini di cemari oleh segelintir pedagang yang kemudian bila mereka tahu kami orang rantau langsung harga yang mereka dagangkan naik tinggi, tetapi bila sepupu saya yang menawarnya dengan bahasa kampung, langsung harga itu turun, atau jangan sesekali kamu samakan berbelanja di Jakarta dengan di kampung. Biasanya kalau perempuan belanja akan terus tawar menawar dari satu toko ke toko yang lain, bila semua toko sudah di jalani dan kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa toko pertama lebih murah maka kita akan kembali ke toko pertama untuk membeli. Tetapi jangan lakukan ini di kampung, karena ketika kamu kembali lagi ke toko yang pertama untuk mendapatkan harga murah tak akan bisa bahkan ketika kita kembali akan di naikan lagi harganya karena dia tahu kita sangat menginginkan barang itu. Hal ini yang membuat saya kemudian merasa tak adil atas perlakuan mereka kepada saya, pada hal saya datang ke kampung karena saya ingin mengenal kampung saya dan melestarikan budaya serta adat-istiadat kami, siapa lagi yang bisa melestarikan itu semua kalau bukan kami orang rantau yang ingin mengenal kampung halaman kami.

Sayang saya tak punya banyak waktu menikmati keindahan kampung halaman saya, walau hanya tiga hari di kampung, setidaknya sudah tertanam dalam benak saya tak ada yang seindah kampung halaman saya (ha.ha.ha....Narsis). Tak lupa dalam perjalanan menuju pulang kami sempatkan singgah melihat keindahan ngarai sianok, bermain-main sebentar di sungai kecil yang jernih di kelilingi ngarai yang indah menambah sejuk suasana. Dari sana kami terus ke jam gadang bukit tinggi, benar-benar sesak bukit tinggi sekarang di penuhi oleh pedagang kaki lima hingga ke atas jam gadang berada, sungguh aset nasional yang satu ini tak begitu terjaga seperti yang sering di ceritakan orang-orang, bahkan terlihat kumuh dengan adanya pedagang kaki lima hingga ke pelataran jam gadang, untuk berfoto saja kami harus meminta ruang kosong pada pedagang dan orang-orang yang berlalu lalang di sana.

"Kampuang nan Jauah di mato" suatu saat saya akan kembali, saya akan kenalkan tanah leluhur saya kepada anak dan cucu saya, "Haiii urang kampuang...imbau lah kami pulang, dengan keramahan, lestarikan dan jagalah kebersihanya, lindungi pensi, rinua dan habitat danau dari pencemaran kerambah-kerambah yang terus berkembang, membuat kotor alam danau kita. Mamak-mamak dan datu-datu jangan menyerah terus kenalkan kami dengan adat istiadat kami, agar kemana pun dan di mana pun kami berada tetap bangga memiliki tanah leluhur maninjau yang kami cinta".


Tuesday, September 25, 2012

Happy International Day Of Peace 21 September 2012

        Membuka kembali gambar-gambar kebersamaan saya dengan mereka membuat saya selalu ingin kembali dan kembali lagi. Mereka bukan hanya teman bagi saya saat ini, bahkan sudah bagaikan keluarga besar yang tak akan saya lupakan.
        Berawal dari perkenalan di sebuah acara Pramuka di sebuah sekolah wilayah Jakarta Timur, saya bertemu mereka. Saat itu mereka datang untuk  sebagai undangan dan karena program twin school pada sekolah tersebut. Kami menyambut mereka penuh suka cita, berbagai jamuan dan tarian seni budaya kami tampilkan sebagai rasa bangga kami sebagai bangsa yang memiliki banyak budaya dan adat.
         Berlanjut dari pertemuan itu beberapa diantara mereka masih berhubungan dengan saya lewat jejaring sosial. Bergurau, berbincang-bincang, bertukar informasi dan bertukar pendapat mengisi hari-hari kami dalam jejaring sosial. Jarak yang jauh tak menyulitkan kami untuk tetap bisa bersenda gurau, karena kecanggihan teknoligi membantu kami terus saling mengirim kabar.

        Di tahun 2010 kami bertemu kembali setelah 2 tahun, Karnival koko yang diadakan SKTTDI (1) Kuala Lumpur Malaysia ternyata lebih mempererat persaudaraan di antara kami. Ada bermacam permainan Pramuka (Scouts) yang mempersatukan kami, Pramuka dan Pengakap berbaur menjadi satu, mereka di kumpulkan dalam berbagai kelompok yang di dalamnya terdapat Scouts dari berbagai bangsa dan negara. Mengalami sekolah di negara yang berbeda, hidup dalam lingkungan keluarga angkat yang berasal dari negara dan budaya yang berbeda, dan memiliki sahabat dari berbagai bangsa dan negara yang berbeda.

        Perjalanan tak hanya di sekitar Kuala Lumpur, kami pun di bawa kedalam perjalanan menuju Pahang. Di sana kami menginap pada sebuah wisma yang di kelilingi hutan lebat yaitu Biodiversiti, sebuah lembaga seperti dinas kehutanan di Malaysia. Kami juga berkunjung ke sebuah sekolah di Pahang yaitu SK Bolok, kami di sambut oleh tarian suku anak dalam (orang asli) yang kebetulan juga bersekolah di sana. Lapangan luas dan masih di tumbuhi rumput-rumput liar menambah gambaran pedesaan yang asri, kami berbaur dalam permainan yang di rancang untuk mempererat persahabatan diantara kami.
        Perjalanan kami pun di lanjutkan pada balai konservasi pelindungan Gajah di kuala gandah, tak hanya sampai di sana kami juga mengunjungi Deerland, sebuah penangkaran rusa yang bergerak bebas di dalam hutan dan berkembang biak secara alami, kami di persilahkan untuk memberikan makan rusa dan bermain-main dengan rusa. Di sana juga terdapat kebun binatang mini yang di dalamnya terdapat berbagai hewan koleksi dari seorang pejabat yang memiliki penangkaran rusa itu.

       Sepulang dari Kula Lumpur dan kembali ke Jakarta membawa cerita tersendiri bagi kami, Michelle menjadi tambah percaya diri dengan prestasinya yang semakin meningkat menjadi seorang Pramuka Garuda kategori Pramuka Siaga, Daffa yang ganteng semakin di ridukan oleh teman-temanya di Kuala Lumpur, Arief yang menjadi lebih dewasa dalam bertindak, Nadia yang bawel semakin pandai dengan bahasa ingrrisnya, Mutahary yang tidak menjadi cengeng lagi dan semakin aktif dalam kegiatan Pramuka, Putri yang melesat dalam akademis dan Anwar yang terus memperbaiki diri untuk lebih percaya diri dan berani.
       27 February 2011, atas undangan pribadi dari seorang teman di Kuala Lumpur, Saya kembali ke Kuala Lumpur, saat itu di kabarkan Michael Baden Pawell cucu dari Bapak Pandu Sedunia Robert Baden Pawell akan datang dalam jamuan malam di ekolah mereka. Senangnya hati saya saat itu bisa berjabatan tangan, bergambar dan berbincang dengan sosok yang selalu di cari di seluruh dunia. Banyak anggota Pramuka yang bertanya kepada saya, mereka tak percaya bila Robert Baden Pawell masih memiliki keturunan yang masih aktif dalam Scout, mereka beranggapan sudah tak ada lagi keturunan yang mewarisi dirinya membawa misi perdamaian dunia lewat scout. Karena banyaknya yang bertanya dengan saya maka saya tuangkan pengalaman saya dalam cerita saya di Blogger pribadi.
       27 April 2011 melalui press conference video Chatt kami bertemu lagi, saat itu di liput oleh TV 3 Malaysia dan Borneo buletin dari Brunei. Bertambah lagi sahabat kami dari Kg Mata-mata Brunei Darusalam. Bertemu mereka melalui Video Chatt melepas rindu diantara kami, tampilan visual video menebus rasa rindu diantara kami yang berjauhan. Michelle, Nadia, Daffa dan Muthary yang saat itu berbincang-bincang dengan sahabat mereka dari Kuala Lumpur dan Brunei ini sangat bahagia rasa rindu mereka terobati.

        October 2011 kami kembali ke Kuala Lumpur memenuhi undangan Karnival koko, sebuah acara tahunan yang diadakan oleh SKTTDI (1) KL Malaysia. Kali ini hadir sahabat kami dari Bejing dan Thailand, bertambah lagi sahabat kami memperkaya budaya dan pengetahuan kami akan dunia. Seperti tahun sebelumnya berbagai permainan dan keterampilan Scout semakin mempererat persaudaraan kami, pentas seni akhirnya melengkapkan keaneka ragaman budaya diantara kami. Walau berbeda bangsa, Negara, Budaya dan Ras, kami di persatukan oleh Scout. Kami pembawa pesan perdamaian dunia, tak ada kepentingan politik, tak ada kepentingan pribadi dan tak ada perbedaan. Justru semua itu lebur jadi satu tujuan menciptakan perdamaian dunia lewat persahabatan dan persaudaraan, menunjukan bahwa perbedaan bukan penghalang, jarak yang jauh bukan hambatan dan hanya ada satu kepentingan adalah perdamaian dunia untuk masa depan.
        Tidak hanya dalam lingkungan sekolah, seperti tahun sebelumnya kali ini kami menjalani Green Ranger Camp, sebuah lembaga non provit yang mengetengahkan pendidikan lingkungan hidup lewat program camp yang menarik bagi pelajar. Mulai dari kunjungan kami di bukit merah lake resort, sesampainya di sana kami di bagi 2 kelompok untuk mempermudah pemandu dari Green Ranger membawa kami berkeliling mempeberikan pengarahan. Di sana ada sebuah taman binatang Mini bernama Eco Park, setelah puas bermain dengan binatang koleksi di sana, kami pun berangkat menyeberangi pulau di seberang untuk melihat Balai consevasi pelindungan primata Orang Hutan. kami di berikan pengarahan mengenai Orang hutan yang berada di sana. Setelah puas bermain dengan Orang hutan kami pun kembali ke wisma yang termasuk mewah menurut kami, malam yang lelah dan tidur yang nyeyak mengukir senyum kami hingga pagi.
         Pagi harinya kami meneruskan perjalanan ke Pulau Banding, sesampainya di sana sudah menantu kapan boat yang akan mengantar kami menyusri sungai dan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Memasuki hutan yang asri, melewati kubangan air di sertai hujan gerimis tak menghalangi langkah kami menyusuri hutan untuk mempelajari ciptaan Tuhan yang amat besar. Pulang ke Hotel kami berkumpul dalam sebuah aula, di sana diadakan berbagai permainan yang menyangkut pelestarian hutan, di harapkan dari permainan itu tercapailah misi pelestarian hutan pada generasi muda. Esok harinya sebelum kembali ke Kuala Lumpur kami di bawa ke sebuah Research Centre, lembaga yang meneliti perkembangan dan pembiakan ikan sungai. melalui simulasi-simulasi yang mereka pertunjukan kami di jelaskan betapa pentingnya melestarikan lingkuangan dan menjaganya agar tidak punah.
         Banyaknya pengetahuan yang kami dapat semoga saja dapat menjadi bekal buat kami agar dapat terus berupaya melestarikan lingkungan bagi generasi penerus. Apa yang kita miliki sekarang adalah titipan anak dan cucu kita maka cintai Lingkungan mu, lestarikan dan jaga dari kepunahan.

        Setahun sudah tak bertemu, tanpa di sadari ikatan persaudaraan semakin erat. Mereka bukan hanya teman atau sahabat bagi saya, tetapi sudah bagai saudara sekandung. Betapa rindunya saya dengan sahabat-sahabat saya membawa saya untuk kembali hanya sekedar bersilaturahmi. Moment Idul Fitri 2012 mempertemukan kami lagi di bulan september.
        Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah SWT memiliki sahabat, keluarga dan saudara seperti mereka. Berkah Allah SWT yang tak pernah saya bayangkan selama ini. Saya punya Abang-abang, Kakak-kakak, adik-adik dan orang tua yang begitu menyayangi saya di Kuala Lumpur. Sambutan mereka adalah Berkah dari Allah SWT yang tak pernah saya kira sebelumnya.
         Ya Allah saya kembali Ke Kuala Lumpur dengan harapan dapat bersilaturahmi dan mempererat persaudaraan diantara kami, terima kasih atas Berkah Mu ya Robb yang tak terbayangkan. Ya Allah Jangan biarkan Perbedaan, jarak dan kepentingan menghancurkan kekeluargaan yang telah kami bangun. Memiliki saudara seperti mereka adalah semangat dalam hidup saya, memiliki sahabat seperti mereka adalah pelepas rasa sedih dalam kehidupan saya, memiliki keluarga seperti mereka adalah Berkah dalam hidup saya.
         Terima kasih Teman, Sahabat, Saudara dan keluarga terbaik saya. Kalian adalah Berkah terbesar dalam Hidup yang Allah SWT berikan untuk saya, Semoga Allah SWT tetap menjaga dan melindungi hubungan ini sepanjang masa, walau perbedaan dan jarak merintangi namun semua itu bisa di jalani selama kita saling menjaga tali silaturahmi ini. Semoga persaudaraan ini menjadi Berkah buat kita semua, I miss you all.....

Sunday, September 23, 2012

Belajar Kesabaran Dari Supir Taxi


Sepanjang jalan menuju pulang saya bagai melayang tak saya hiraukan orang-orang di dekat saya, yang ada dalam benak saya hanya kenangan masa kecil yang indah bersama orang-orang tersayang. Bagaimana bisa seseorang yang saya kagumin, saya banggakan bisa melakukan ini kepada saya. Saya sangat mengerti maksud dia baik tetapi saat itu saya benar-benar membutuhkan bantuanya, kesempatan tak bisa saya dapatkan di tahun depan karena ada batasan usia, harapan hanyalah pada satu kesempatan itu dan tak ada yang lain. tetapi tak dapat di capai hanya karena keegoisanya akan sebuah prinsip yang dia pegang.

Seketika saya teringat oleh teman saya di Bandung, dia banyak menbantu saya, dia sangat percaya kepada saya bahkan dia selalu mendukung saya. tak ada rasa iri atau takut akan di saingi oleh saya, yang ada pada dirinya adalah bagaimana agar saya maju terus melangkah tampa pamrih dia membantu. saya mulai mebanding-bandingkanya dengan dia, saya merasa dia tak pernah mendukung saya dan seakan takut tersaingi oleh saya. Mengapa orang lain lebih mau mendukung saya di bandingkan saudara sendiri, saya juga terus mengerutu dalam hati betapa teganya dia perlakukan saya seperti ini, tak setiap manusia sempurna, pasti pernah melakukan kesalahan dan saya tahu pasti kesalahan dia di masa lalu tetapi mengapa bagaikan orang sempurna dengan prinsipnya.

Saya langkahkan kaki menyusuri jalan dengan lunglai dan penuh dengan kesedihan, sakit hati dan kekecewaan. Saya rasakan itu semua karena saya begitu menyayanginya dan begitu bangga memilikinya, ternyata benar kata alm. nenek, "Kita boleh Bangga dengan keberhasilan yang di capai oleh saudara kita, tetapi jangan pernah BERHARAP, karena harapan hanya ada pada diri sendiri dan kebanggaan hanya bisa di milki oleh diri sendiri bukan orang lain".

Turun dari Trans Jakarta (Bus) saya putuskan untuk menaiki Taxi karena lelah berjalan tak tentu arah, di dalam taxi saya hanya diam karena lelah sambil menikmati kemacetan kota Jakarta. Supaya tidak mengantuk akhirnya saya putuskan untuk berbincang-bincang dengan supir taxi yang terlihat ramah dan bersahabat, entah mengapa pembicaraan itu akhirnya mengarah pada masalah saya yang baru saja saya alami. Dengan bijak Supir taxi itu memberikan sedikit pandangan kepada saya, tanpa menggurui dan tanpa menilai salah dia telah membuat saya kagum akan usaha-usahanya.

"Kamu masih muda banyak Jalan yang harus kamu tempuh, bila belum berhasil bukan berarti gagal, belum bisa di dapat belum tentu bukan yang terbaik buat kamu, Allah maha tau apa yang terbaik buat umatnya, terbaik menurut kamu bukan berarti terbaik menurut Allah. Bila akhirnya kamu belum bisa mendapatkanya berarti Allah masih ingin memberikan Misi yang lain yang lebih baik untuk kamu yang harus kamu selesaikan. Jadi jangan pernah putus berharap akan datang saatnya nanti lebih indah dari yang kamu harapkan." ucapnya sambil tersenyum.

Perlahan saya mencerna maksud dari perkataanya, bagaikan seorang malaikat yang berbisik kepada saya, "Masih ada misi kebaikan yang harus kamu lakukan bukan berarti gagal tetapi ada banyak di luar sana yang masih membutuhkan kamu untuk membantunya.". kemudian saya geser tempat saya duduk berupaya melihat wajah dan fisik Supir taxi itu karena saya duduk di bangku belakang, saya lihat wajahnya yang sedikit cacat dengan sebelah kelopak matanya menurun hampir menutupi matanya dan jemarinya yang memegang setir mobil sedikit meliuk-liuk seperti berombak, terlihat tak normal, entah kalau kakinya tetapi dari cara bicaranya sepertinya dia penyandang cacat tubuh.

SubhannaAllah, maha besar Allah yang menciptakan dia dengan kekuranganya namun tak gentar dia berjuang menghadapi hidup. Dengan keterbatasanya dia bisa mencari nafkah untuk 1 orang anak dan istrinya, dengan keterbatasanya dia tak mau mengemis, dengan keterbatasanya dia tetap berharap akan ada kebaikan dari kekurangan yang dia miliki. "Saya sudah 25 tahun menjadi supir taksi dik, karena sitemnya mencicil mobil sendiri dari komisi harian membawa taxi jadi saya sudah mendapat 3 mobil. hasilnya saya jual dan saya tabung buat anak saya sekolah ke perguruan tinggi nanti" Dengan senyum bangga membuat saya malu dengan diri sendiri

Friday, August 17, 2012

NARKOBA Itu Jahat

Bertemu denganya membuat aku kembali ke masa kecil bersamanya, seorang teman dari masa kecil yang begitu melindungi dan menyayangi ku ketika itu, kini terlihat lusuh dan tak berdaya. Kamu yang dulu berdiri tegap melindungiku, tangan mu yang selalu mengengam jemariku mengiringi langkah mungilku, dan wajah mu yang ganteng selalu tersenyum membuat aku tenang disisimu.

Kakak..., ingin rasanya saat itu aku meraih tangan mu dan berkata ini aku kak, si kecil yang dulu selalu bermain bersama kakak, yang selalu kakak gendong dan membimbing langkah kecilku bermain bersama. Mengapa kakak seperti ini sekarang...?? dimana kakak ku yang selalu tersenyum memberi isyarat "tenang lah dik...ada kakak di sini..", dimana suara lucu mu yang selalu menghiburku, dimana keceriaan mu dan mata indah itu yang selalu membuat aku merasa tenang bersama mu.

Sekian tahun yang lalu masa kecil di sudut kota Jakarta, di sebuah gang kecil dan rumah kontrakan yang sederhana, di sanalah aku di lahirkan dan melalui masa kecil ku hinga usia 3 tahun. di seberang rumah kontrakan ku ada sebuah rumah paling besar diantara rumah lainya. Sebuah keluarga yang tergolong mampu berada di sana, dengan keluarga itu aku sudah bagaikan keluarga sendiri, ibu itu sudah bagaikan mama ku sendiri, Bapak juga sudah bagaikan Bapak ku sendiri dan ke 9 anaknya sudah bagaikan kakak ku sendiri. Diantara 9 anaknya itu hanya 2 yang dekat dengan ku, Sebut saja "P" dan "A".

Mama Al sudah seperti mamaku sendiri, dulu ketika aku lahir mama Al yang menunggui kelahiranku di rumah sakit, mama Al juga yang sering mengasuh ku bila orang tua ku pergi bekerja. Karena kesibukanya bekerja orang tua ku suka lupa hari ulang tahun ku, tetapi mama Al selalu ingat dan selalu dia bilang "anak mama mana mungkin mama lupa ulang tahunya", kakak "P" dan kaka "A" adalah kakak yang begitu menyayangiku, dua lelaki itu selalu mengajak ku bermain, menghiburku dan melindungiku. Hingga usia 3 tahun aku berada di sana, sampai pada saatnya orang tua ku mendapatkan rumah untuk kami di daerah pinggir kota, karena jaraknya jauh dari sana aku berpisah dengan mereka cukup lama hingga aku beranjak remaja.

Bertemu lagi dengan kakak "P" dan kakak "A" ketika aku duduk di kelas Empat Sekolah Dasar, saat itu kakak "P" sudah ada di kalimantan untuk sekolah di perguruan tinggi, kabarnya dia mulai tak beres dengan pergaulanya hingga terpaksa menikah dengan wanita di sana, rumah yang dulu megah dan nyaman bahkan lebih megah diantara rumah lainya kini berubah menyeramkan dan kusam, mama Al sudah tak dapat berdiri sempurna lagi karena stroke, Bapak seorang pensiunan yang sudah tak segagah dulu lagi dan dan kakak-kakak di sana tak seramah dulu lagi, namun kakak "A" masih seperti dulu ketika ku kecil. Senyum nakalnya dan suara lucunya masih tetap membuat aku tertawa dan terhibur karenanya. Mama Al pun masih begitu menyayangi ku, ingat sekali betapa rindunya ia dengan ku sampai-sampai dia sempatkan memanggil semua teman-teman kakak "A" untuk datang ke rumahnya merayakan ulang tahun ku (karena ketika itu aku berulang tahun). dengan tergopoh-gopoh dia persiapkan mendadak ulang tahun ku, dia titipkan juga kado ulang tahun untuk ku, tak henti-hentinya dia memeluku dan menciumi pipiku penuh kerinduan "ini anak mama...ini anak mama..." ucapnya lagi.

Selang beberapa lama kami kembali tak pernah bertemu lagi, hingga aku menginjak perguruan tinggi, ketika bertemu denganya terakhir kali, dia menangis memeluku, sambil sesekali berbincang dengan mamaku tentang hidupnya yang kini tak sebaik dulu, rumah megah itu sudah sebagian di sekat dan di sewakan kepada orang asing (nigeria), 4 anaknya terkena pergaulan bebas dan ada juga yang terkena NARKOBA (Narkotika dan Obat terlarang). Air matanya mengalir sambil sesekali dia meratapi hidupnya yang tak berdaya lagi karena stroke. Kakak "P" dan kakak "A" pun sudah tak seperti dulu lagi, mata mereka tak sejernih yang dulu lagi, senyum mereka tak seindah masa kecil ku.Bagi ku mereka terlihat seperti orang down sindrom, aku hanya bisa terdiam dan menangis dalam hati. Kakak...kenapa bisa begini....???.

NARKOBA (narkotika dan Obat terlarang) memang jahat, dia menghancurkan hidup kedua kakak yang begitu aku sayangi, dua orang kakak yang selalu melindungiku di masa kecil, selalu tersenyum dan menghiburku di kala sedih. suara jernih dan binar mata indah mereka tak bisa ku temui lagi, wajah ganteng dan senyum damai mereka seakan tercemar oleh NARKOBA yang merusak otak mereka. Wajah lusuh, mata kosong dan dekil merubah semua keindahan masa kecil kami.

Setahun kemudian mama Al meninggal dunia, dan berturut 2 tahun kemudian Bapak pergi menyusul mama Al kembali ke pada sang pencipta, dengan meninggalkan duka yang mendalam akibat perbuatan anak-anaknya.Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengan kakak "P" dan "A", aku merasa takut untuk berdekatan dengan mereka, karena NARKOBA sudah merubah mereka bukan seperti kakak-kakak ku yang lalu.

Pagi ini aku melewati tempat di mana masa kecil ku itu tertinggal, ku lihat sudut-demi sudut sudah mulai penuh berdesakan rumah-rumah liar, tak seperti dulu masih ada sedikit jalan untuk bisa di lewati, lalu lalang kendaraan penuh sesak. kemacetan tak dapat terhindari. Sejenak pandangan ku terpaku pada sebuah gang kecil di seberang sana, dan di sebuah gubuk kecil di depan gang itu duduk kakak "P" di sana sambil meminta uang pada pengemudi angkot yang singgah mencari penumpang di sana, sesekali ia berteriak memanggil penumpang, setelah angkot penuh pengemudi angkot akan memberinya uang. Kemudian ku alihkan lagi pandangan ku kesosok lainya, sambil mencari-cari sosok kakak "A" di sana, tetapi tak ku temui dia di sana.

Aku kembali memasuki sebuah sekolah di seberang jalan itu, di sana lah orang tua ku bekerja sebagai guru. Aku memasuki kantor untuk beristirahat sejenak, seketika aku terkejut seketika di sana sudah duduk kakak "A" bersama ibu ku sedang berbincang-bincang di sana, aku berusaha menjaga perasaan ku dan dengan tenang masuk ke dalam ruangan itu. Dia sama sekali tak mengenaliku fikirku bahkan dia tak sedetik juga menoleh ke hadapan ku.

Kakak maaf kan aku tak menegurmu saat itu, aku ingin sekali menjabat jemarimu seperti masa kecil dulu, aku ingin sekali mengulang masa indah kecil kita dulu. Tetapi aku terlalu takut untuk dekat dengan mu, wajah lusuh, mata kosong dan cara bicaramu seperti orang tak waras, itu sudah cukup bagi ku mengisaratkan kamu masih ketergantungan obat terlarang. Aku hanya dapat memandangimu dari balik lemari tanpa bisa berucap "ini aku kakak....si kecil yang selalu berteriak memanggil mu ketika membutuhkan pembelaan, menangis ketika meminta kau menggendongku. Kakak ingin rasanya ku lihat kembali binar mata indahmu yang membuat damai hati ini, ingin rasanya ku dengar suara lucu mu menghibur ku yang sedih, ingin rasanya aku merasakan gengaman jemarimu membimbingku bermain bersama seperti saat kecil dulu". Semoga Allah membimbing langkah mu kakak, Semoga Allah memberi mu hidayah untuk kembali ke jalanNya.

NARKOBA itu jahat, dia telah merenggut kebahagiaan masa kecil ku, tolong Tuhan kembalikan kakak-kakak terbaik ku seperti masa kecil dahulu.