*)Sepasang
sepatu berjalan bermil jaunya, terinjak-injak bahkan mungkin sampai
sobek hanya untuk melindungi kaki si pemiliknya agar tidak terluka.
*)Seekor Domba harus rela kedinginan karena bulunya di cukur/pangkas
untuk memberikan manfaatnya Kehangatan bagi Manusia.
*)Sebuah lilin
menyala dalam kegelapan walaupun tubuhnya mencair dan habis terbakar
namun dia sanggup menerangi kita dalam kegelapan.
Lalu sanggupkah
manusia bercermin kepada mereka...??
Mengenalnya pertama kali masih ingat saya, saat itu datang ke sebuah sekolah di daerah Salemba, salah satu SMAN Pavorite di Jakarta yang mengadakan kelas Internasional (KI) di sekolahnya ini adalah produk dari manajemen kelompok kami, sebuah kelompok cendikiawan yang membangun progaram KI di Jakarta yang berawal dari SMAN paforite di beberapa sekolah di Jakarta.
Tubuhnya yang mungil berbalut busana muslim, senyumnya yang selalu mengembang, matanya yang sipit menunjang kulitnya yang putih seperti orang China. Dia datang menghampiri saya dengan ramah berbincang-bincang layaknya partner baru yang akan bekerja sama dalam sebuah proyek, sekilas dia melirik kepada saya, "kalau di lihat-lihat kamu mirip juga dengan NL anaknya pak SA". ucapnya sambil tersenyum, dalam hati saya hanya bergeming, bagaimana tidak dia kan sepupu saya anak dari paman saya, jelas saja kalau kami memiliki kemiripan. Namun demi profesionalisme saya berusaha menyembunyikan identitas saya yang merupakan keponakan dari pak SA.
Seiring berjalanya waktu, kebersamaan kami sebagai partner yang begitu kompak mengakibatkan dia tahu siapa saya, ya sudah lah...!! fikir saya toh dia sudah bagai saudara bagi saya, bukan sekedar partner kerja lagi.
Sejak dulu tak pernah terbayangkan oleh saya bisa berjalan-jalan ke luar negara, bagi saya itu hanya dalam mimpi, saya juga tak pernah membayangkan bisa meneruskan sekolah walaupun tetap berharap itu akan menjadi nyata. Dia mengenalkan banyak hal kepada saya, tentang dunia kerja, tanggung jawab kerja dan berusaha meraih cita-cita dengan mengambil semua kesempatan yang ada.
Pertama kali saya keluar negeri adalah ke Singapore dan Malaysia, waktu itu ada beberapa guru yang di tugaskan ke negara tersebut untuk sebuah kunjungan ke sekolah-sekolah di kedua negara tersebut yang mengacu pada kurikulum Cambridge, entah mengapa Paman saya yang merupakan ketua program saat itu tidak memilih saya untuk ikut, mungkin karena menurut dia bahasa Inggris yang saya kuasai belum mampu membawa saya ke negara tersebut dan belum adanya pengalaman saya sebagai guru karena waktu itu saya baru pertama kali mengenal dunia kerja, tetapi dengan bujukan teman saya yang mungil ini (sebut saja Ika) akhirnya saya ikut juga, dengan biaya sendiri tidak dari kantor seperti guru lainya yang ikut bersama saya, tak lepas juga bantuan dari Ika akhirnya saya berangkat juga ke sana.
Bisa di bayangkan betapa bahagianya saya saat itu, pertama kali saya memiliki Paspor sebagai identitas Internasional saya dan pertama kalinya saya bisa pergi keluar negara walau hanya sebatas negara tetangga, tetapi semua itu tak bisa di bayangkan dengan kata-kata.
Ika selalu menganggap saya mampu, dia tak pernah menyepelekan saya, dia selalu membuat saya harus memanfaatkan kesempatan sekecil apa juga. Selama berkunjung di kedua negara itu tak lepas bahasa Inggris di pergunakan, dan dengan sedikit support darinya dengan bahasa Inggris yang masih berantakan saya pun terpaksa menggunakan bahasa itu untuk bertanya, menjelaskan dan berkomunikasi dengan guru-guru di sana. Karena Ika keras untuk ini dia tak akan membantu saya terpaksa saya harus maju dengan bahasa Inggris yang standar kala itu.
Mendapatkan kesempatan untuk meneruskan sekolah ke tingkat Magister Akuntansi di Universitas Indonesia juga tak lepas dari support dan proses keyakinan lalu menciptakan rasa percaya kepada diri saya untuk mengikuti test masuk Universitas Indonesia. Bisa di bayakan di saat itu saya sudah pasrah, gak mungkin rasanya saya yang seperti ini bisa masuk Universitas Indonesia dengan Toefl yang saya rasa gak cukup baik untuk masuk UI apa lagi untuk tingkat master. Tetapi Ika selalu ada untuk saya, meyakinkan saya dan menumbuhkan rasa percaya diri saya, masih ingat ketika seorang staf UI menghubungi saya lewat telpon tentang kelulusan saya, dan saya masih belum percaya dengan senangnya Ika memeluk saya mengucapkan selamat. "Bismillah" akhirnya saya lulus, Alhamdulillah selesai juga sekolah saya di sana, walau sempat menyerah karena harus bekerja sambil kuliah pada malam harinya, tetapi Ika selalu mendorong aku untuk bisa, yakin dan percaya kepada kemampuan diri. Saya ingat satu ucapan dia "gue aja percaya sama kemampuan elo Ni' masa sih elo gak yakin sama diri lo sendiri kalau elo pasti mampu dan pasti bisa..!!".
Persoalan di dalam keluarga sempat membuat saya menyerah pada takdir, tetapi lagi-lagi dia bilang "gue percaya lo mampu Ni' itu cuma misi dalam kehidupan yang harus kita selesaikan bukan kita hindari", usianya memang lebih muda dari saya tetapi semangat dan keyakinanya akan kehidupan dan Tuhan membuat saya malu pada diri saya sendiri.
Saya pernah mengeluh ingin sekali kursus bahasa Inggris di TBI pusat, tetapi kok ya biaya kursusnya mahal banget, satu termnya bisa bertarif jutaan rupiah. tentu saja dengan perekonomian keluarga aku tak mungkin aku bisa kursus di sana walau hanya satu term. Suatu hari dia mengajaku jalan, alasan dia mau kursus di TBI dan meminta saya untuk menemani dia untuk daftar di sana. Dua formulir tes di berikan oleh mereka sedikit bingung saya bertanya kepada dia kenapa ada dua kertas test kan yang mau masuk hanya Ika, dengan senyum nakalnya dia langsung bilang "katanya mau kursus di TBI, udah kerjain aja gak usah banyak bicara". dengan banyak pertanyaan di otak ku seperti biasa Ika mampu memaksa saya menuruti kemauanya. Dengan bantuan dia akhirnya saya bisa mendapatkan kursus gratis di TBI, sementara dia yang sama-sama lulus dengan saya seenaknya mengundurkan diri dengan alasan "gue kan cuma nemenin elo test biar elo gak ragu-ragu, elo kan suka ragu Ni' gak yakin, itu tuh...penyakit elo" ucapnya sambil tersenyum.
Banyak hal-hal kecil yang akhirnya bisa menjadi besar di mata saya, banyak yang menurut fikiran saya tak mampu tetapi dia selalu ada untuk yakinkan saya bahwa saya mampu, ketika saya ragu dia meyakinkan saya pasti bisa, ketika saya takut dia memaksakan saya untuk berani, ketika saya rasa tak mungkin dia selalu bisa membuat saya menjadi mungkin melakukanya.
Banyak hal yang dia lakukan untuk bisa membuat saya memiliki rasa percaya diri untuk jalani semuanya yang menuru saya gak mungkin menjadi mungkin saya kerjakan. Namun waktu tak selamanya berfihak kepada saya, kembali saya harus jalani hidup ini sendiri, tentukan jalan hidup sendiri dan memutuskan yang terbaik untuk saya. Jarak yang jauh dan setatusnya yang kini sudah berkeluarga membuat kami akhirnya terpisah, hampir 3 (tiga) tahun sudah kami tak berjumpa, mungkin saat ini dia sudah meraih mimpi-mimpinya, sementara saya di sini terus berharap akan ada cahaya terang berupa sahabat seperti kamu yang tak pernah henti percaya dan yakin kepada saya di saat saya ragu terhadap diri sendiri dan orang lain meragukan saya, tetapi kami selalu yakin kepada saya dan selalu percaya kepada saya.
Terima kasih sahabat....ku... semoga kamu dapatkan kebahagiaan selalu dalam kehidupan baru mu, terima kasih Allah telah mempertemukan kita...semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kamu yang tulus kepada saya, Kamu selalu percaya dan yakin kepada saya di saat semua orang meragukan saya dan Terima kasih atas persaudaraan serta persahabatan yang selalu kamu berikan untuk saya. Miss you my Sister,my best...best friend...
Sunday, June 23, 2013
Friday, June 21, 2013
Kado Untuk Mama Dan Papa (Harapan setiap doa ku di hari kelahiran)
Hari ini aku bahagia, walau seperti biasanya mama dan papa lupa hari kelahiran ku, tetapi aku begitu menyayangi mereka. Semalam aku sakit, karena lelah oleh kegiatan yang penuh sebelum dan sesudah "Program Anak Angkat dan Perkemahan Nusantara" sebuah Program yang kupersembahkan untuk mama tersayang, bukti cinta ku kepadanya. Pagi hari aku terbangun dengan harapan mama ada di sampingku, tetapi ternyata tak ada, karena mama sedang tugas ke kuningan, kemudian aku buka hand phone ku tak ada SMS darinya juga, yaaaa...sudah laaahhh seperti biasa dia lupa lagi he.he.he.he..., keluar bertemu papa yang sedang duduk menyantap sarapan paginya, tak bergeming juga hanya diam sedikit bertanya, "sudah sembuh de...?" (Karena semalam aku sakit). "Sudah" jawab ku singkat. jadilah mereka lupa...tetapi tak mengapa. Beberapa saat kemudian papa tersadar oleh berita Jokowi Gubernur DKI Jakarta berulang tahun pada hari yang sama, dengan cengiran khasnya dia berkata "Selamat Ulang tahun anak papa", "Telat...!" ucapku sedikit merajuk, tetapi sebenarnya sih gak apa-apa he.he.he....Beberapa jam kemudian (hampir sore siiihhh sebenarnya ) baru mama SMS, "Selamat Ulang Tahun ya De, Semoga Sehat selalu, Panjang umur, murah rezeki, kuat iman dan Taqwa kepada Allah" mmm... ucapan standar menurut ku. Karena bila kakak ku yang ulang tahun akan terasa indah kata-kata yang mereka ucapkan bagai syair puisi baik lewat SMS maupun FB (maklum anak Pertama kata orang berkesan banget buat setiap pasangan), ha.ha.ha... ngiri nih ceritanya...mmmm...ok laaah terima kasih ma, aku sayang mama.
Kenapa bisa "Program anak angkat dan perkemahan nusantara" menjadi begitu berarti untuk aku...??, Kelulusan dari S2 ku (my Master school) di Universitas Indonesia adalah kado ku untuk papa agar dia bangkit dari kesedihan, bahwa masih ada aku yang akan selalu membuat papa tersenyum di setiap doa-doa papa, sedangkan program itu aku persembahkan untuk mama adalah kado ku untuk mama, walau letih aku merancang semuanya Mulai dari design program, pelakat, logo dll (walau tak di pungkiri banyak pihak yang membantu, terima kasih...), ku buat semampu aku walau aku tahu masih banyak kekuranganya, tetapi setidaknya hanya ini yang bisa aku persembahkan untuk mama di penghujung masa jabatanya sebagai kepala sekolah. Dengan harapan nama mama akan harum di kenal orang, prestasi mama meningkat di akhir menuju masa pensiun mama dan yang terpenting aku dapat melihat senyum mama yang sudah mulai memudar. Ini adalah kado untuk mama wau tak sesempurna yang di harapkan, semoga mama bahagia ini sebagai tanda aku sangat menyayangi mama.
Satu hal yang ingin dan ingin selalu ku ucapkan sepanjang usia ku, bahwa aku begitu mencintai mereka...mama, papa dan kakak ku (thank you for little surprise party...luv you...). Bila suara ini tak dapat terdengar lagi aku hanya bisa bilang aku sayang mereka, bila aku tak dapat berkata lagi mungkin hanya tulisan ini yang bisa mengatakan aku menyayangi mereka. Seperti tulisan ku terdahulu "Terima Kasih Karena Mereka Yang terbaik Untuk Ku".
Di hari kelahiran ku ini aku berharap, Allah... Berkahi dan Lindungi aku di setiap langkah ku di sepanjang usiaku, Jaga aku dalam Iman hanya kepada Mu ya Allah.
Sehatkan aku agar dapat memberikan kado - kado terindah lainya untuk mama dan papa serta membahagiakan mereka di hari tuanya.
Mudahkan rejeki ku dan tunjukan jalan ku untuk menjemput rejeki itu.
Pertemukan, dekatkan dan persatukan aku dengan jodoh ku di jalan Mu ya Allah serta berkahi kami keturunan yang sholeh dan sholeha yang akan menjadi kebanggan kami di hari akhir, Aamiin...
Friday, May 31, 2013
Lambang Cinta Tanpa Batas
Besar dalam pangkuan nenek membuat aku tumbuh dan belajar dari kehidupan, sejak kecil nenek menanamkan betapa indahnya dunia kecil tanpa kepentingan pribadi yang merusak. hidup penuh dengan kasih dan sayang, saling menghargai dan menghormati sesama.
Felix dan Fani dua beradik kakak ini sudah bagaikan adik bagi saya, tak ada lagi perbedaan diantara kami. Nenek menjaga kami tanpa membedakan, menyayangi kami dengan penuh kasih dan sayang, menghormati perbedaan diantara kami dengan bijak dan menghargai kami selayaknya manusia yang memiliki hak untuk di hargai.
Felix dan Fani sama dengan aku, lingkup keluarga yang kedua orang tua sibuk bekerja membuat kami tumbuh dalam kasih sayang nenek yang kala itu juga menjaga felix dan fani di saat orang tua mereka bekerja. Walau pun mereka tak memiliki hubungan keluarga dengan kami, nenek menyayangi mereka layaknya cucunya sendiri. Masa kecil bersama mereka dan nenek membuat kami dekat dan tumbuh menjadi saudara, mereka sudah bagai adik bagi ku dan aku sudah bagai kakak bagi mereka.
Kepergian nenek di saat kami masih belia membuat kami sedikit goyah, kepentingan pribadi semakin membuat kami mulai menjauh. Di tengah kegoyahan itu kehidupan menggantikan posisi nenek dengan kedatangan mbah ti ditengah-tengah kami, mbahti sama dengan nenek ku begitu menyayangi kami tanpa peduli dengan perbedaan diantara kami. mbah ti adalah nenek dari Felix dan Fani, walau pun begitu seperti halnya nenek ku tak ada beda cintanya kepada kami.
Masih terasa ciuman lembut mbah setiap ia datang mengunjungi kami di jakarta, karena mbah ti tinggal di jawa. Kemudian mbah pindah ke Bandung dan intensitas kami bertemu pun semakin sering. Belajar membuat donat tidak membuat aku kemudian pandai membuatnya, karena akhirnya mbah juga yang membuatkanya untuk aku. Memang mbah itu top banget deh, paling seneng kalau mbah datang ke Jakarta aku bebas dari tugas memasak karena mbah pasti akan memasakan aku lauk yang enak-enak.
Sesaat aku ingat nenek ku betapa bahagianya masa kecil kami dulu bersamanya, pulang sekolah sudah tersedia makanan yang lezat di meja, menunggu kami di depan pintu rumah dan tersenyum ketika kami satu persatu terlihat di balik pintu olehnya.
Begitu pun mbah ti, sambil merajut di kursi yang berhadapan dengan televisi tak jauh dari pintu masuk dia menunggu kedatangan kami, dia akan tersenyum dan langsung menciumi pipi kami satu persatu ketika kami memasuki rumah.
Kembali ku pada sekotak peti di hadapan ku, tubuh yang selalu tersenyum dan menciumi pipiku kini sudah terbujur kaku di sana, dengan gaun putih yang ia jahit dengan tanganya sendiri, wajah cantik yang terhiasi makeup sederhana dan seikat buket bunga di tanganya. "Mbah.....bangun....", batin ku berkata.... "mbah tidur kan...jangan pergi tinggalkan kami...tolong bangun mbah..." batin ku kembali berucap, tetapi ia tak juga membuka matanya, dia tertidur dalam damai di sebuah peti yang berhias bunga segar.
Riuh suara nyanyian mengalun mengiringi kepergian mbah, aku yang seorang muslim hanya dapat memandangi upacara pemakaman itu dari kejauhan dengan tetap berharap ini hanya mimpi, tetapi ketika peti itu akan di tutup, sekali lagi ku terobos kumpulan orang yang ingin melihatnya terahir kali. Aku berlari menghampiri peti itu, tak ku hiraukan pandangan penuh tanya orang - orang di sekitar dengan penampilan ku yang berjilbab/berhijab. Ku pegangi tangan mbah, pipinya dan pundaknya ku guncangkan dengan tetap berharap ini hanya mimpi, tetapi ketika peti itu benar-benar tertutup menghapus semua anggapanku. Tanpa terasa air mata yang aku tahan menetes juga di sudut mata, ku peluk Fani dengan tangis ku yang meledak akibat ku tahan berjam-jam.
Ku selusuri pemakaman yang merupakan tempat peristirahatan terahir mbah, perlahan peti diturunkan dengan iringan nyanyian rohani, kembali aku hanya bisa memandangi dari kejauhan. Setelah semua pergi baru aku mendekat, ku pandangi gundukan tanah itu sambil ku sentuh nisan yang berbentuk salip itu, kemudian aku terduduk sambil memegangi tanah basah itu. "mbah entah apakah doa ku akan sampai atau tidak, aku hanya berharap mbah bahagia di sana dan segala kasih serta sayang mbah di balas oleh yang maha kuasa dengan kelapangan di alam sana". Bati ku berucap
Selamat jalan nenek halimatun....., selamat jalan mbah ti.....Kalian adalah lambang cinta tanpa batas, karena kalian menyayangi kami tanpa memperdulikan perbedaan diantara kami, menyayangi kami tanpa membedakan siapa kami, menyayangi dengan tulus tanpa batasan apa pun...
Felix dan Fani dua beradik kakak ini sudah bagaikan adik bagi saya, tak ada lagi perbedaan diantara kami. Nenek menjaga kami tanpa membedakan, menyayangi kami dengan penuh kasih dan sayang, menghormati perbedaan diantara kami dengan bijak dan menghargai kami selayaknya manusia yang memiliki hak untuk di hargai.
Felix dan Fani sama dengan aku, lingkup keluarga yang kedua orang tua sibuk bekerja membuat kami tumbuh dalam kasih sayang nenek yang kala itu juga menjaga felix dan fani di saat orang tua mereka bekerja. Walau pun mereka tak memiliki hubungan keluarga dengan kami, nenek menyayangi mereka layaknya cucunya sendiri. Masa kecil bersama mereka dan nenek membuat kami dekat dan tumbuh menjadi saudara, mereka sudah bagai adik bagi ku dan aku sudah bagai kakak bagi mereka.
Kepergian nenek di saat kami masih belia membuat kami sedikit goyah, kepentingan pribadi semakin membuat kami mulai menjauh. Di tengah kegoyahan itu kehidupan menggantikan posisi nenek dengan kedatangan mbah ti ditengah-tengah kami, mbahti sama dengan nenek ku begitu menyayangi kami tanpa peduli dengan perbedaan diantara kami. mbah ti adalah nenek dari Felix dan Fani, walau pun begitu seperti halnya nenek ku tak ada beda cintanya kepada kami.
Masih terasa ciuman lembut mbah setiap ia datang mengunjungi kami di jakarta, karena mbah ti tinggal di jawa. Kemudian mbah pindah ke Bandung dan intensitas kami bertemu pun semakin sering. Belajar membuat donat tidak membuat aku kemudian pandai membuatnya, karena akhirnya mbah juga yang membuatkanya untuk aku. Memang mbah itu top banget deh, paling seneng kalau mbah datang ke Jakarta aku bebas dari tugas memasak karena mbah pasti akan memasakan aku lauk yang enak-enak.
Sesaat aku ingat nenek ku betapa bahagianya masa kecil kami dulu bersamanya, pulang sekolah sudah tersedia makanan yang lezat di meja, menunggu kami di depan pintu rumah dan tersenyum ketika kami satu persatu terlihat di balik pintu olehnya.
Begitu pun mbah ti, sambil merajut di kursi yang berhadapan dengan televisi tak jauh dari pintu masuk dia menunggu kedatangan kami, dia akan tersenyum dan langsung menciumi pipi kami satu persatu ketika kami memasuki rumah.
Kembali ku pada sekotak peti di hadapan ku, tubuh yang selalu tersenyum dan menciumi pipiku kini sudah terbujur kaku di sana, dengan gaun putih yang ia jahit dengan tanganya sendiri, wajah cantik yang terhiasi makeup sederhana dan seikat buket bunga di tanganya. "Mbah.....bangun....", batin ku berkata.... "mbah tidur kan...jangan pergi tinggalkan kami...tolong bangun mbah..." batin ku kembali berucap, tetapi ia tak juga membuka matanya, dia tertidur dalam damai di sebuah peti yang berhias bunga segar.
Riuh suara nyanyian mengalun mengiringi kepergian mbah, aku yang seorang muslim hanya dapat memandangi upacara pemakaman itu dari kejauhan dengan tetap berharap ini hanya mimpi, tetapi ketika peti itu akan di tutup, sekali lagi ku terobos kumpulan orang yang ingin melihatnya terahir kali. Aku berlari menghampiri peti itu, tak ku hiraukan pandangan penuh tanya orang - orang di sekitar dengan penampilan ku yang berjilbab/berhijab. Ku pegangi tangan mbah, pipinya dan pundaknya ku guncangkan dengan tetap berharap ini hanya mimpi, tetapi ketika peti itu benar-benar tertutup menghapus semua anggapanku. Tanpa terasa air mata yang aku tahan menetes juga di sudut mata, ku peluk Fani dengan tangis ku yang meledak akibat ku tahan berjam-jam.
Ku selusuri pemakaman yang merupakan tempat peristirahatan terahir mbah, perlahan peti diturunkan dengan iringan nyanyian rohani, kembali aku hanya bisa memandangi dari kejauhan. Setelah semua pergi baru aku mendekat, ku pandangi gundukan tanah itu sambil ku sentuh nisan yang berbentuk salip itu, kemudian aku terduduk sambil memegangi tanah basah itu. "mbah entah apakah doa ku akan sampai atau tidak, aku hanya berharap mbah bahagia di sana dan segala kasih serta sayang mbah di balas oleh yang maha kuasa dengan kelapangan di alam sana". Bati ku berucap
Selamat jalan nenek halimatun....., selamat jalan mbah ti.....Kalian adalah lambang cinta tanpa batas, karena kalian menyayangi kami tanpa memperdulikan perbedaan diantara kami, menyayangi kami tanpa membedakan siapa kami, menyayangi dengan tulus tanpa batasan apa pun...
Tuesday, December 25, 2012
Kuala Lumpur, Langkawi, Pulau Tuba... Saudara ku Bertambah lagi...
Kembali lagi ke Kuala Lumpur bagaikan kembali ke kampung halaman sendiri (psssttt...kan kota kok Kampung sih..??? he.he.he...). Bertambah lagi saudara ku lewat kegiatan Program anak angkat dan pendidikan alam sekitar yang diadakan pada tanggal 14 November hingga 22 November 2012 di pulau Tuba, Langkawi dan Kuala Lumpur.
14 November kami berangkat dari Jakarta pagi hari tiba di Kuala Lumpur pada pukul 1 siang waktu setempat, Sesampai di sana kami di sambut dengan baik oleh keluarga angkat ku. Satu hari kami menginap di rumahnya (terima kasih untuk keluarga Bapak Solehudin yang sudah begitu meriah menyambut kedatangan kami).
Malam harinya kami di bawa berjalan-jalan melihat kota Kuala Lumpur di waktu malam, kami pun berhenti pada sebuah taman yang di penuhi oleh pohon-pohon berlampu dan berbagai bentuk karakter bercahaya lampu. I-City Shah Alam. Indah sekali malam itu, adik adik Pramuka yang saya bawa sebenarnya sudah mengantuk dan sudah tertidur di mobil.Tetapi begitu melihat taman itu langsung mata mereka terbelalak dan terpesona melihat keindahan lampu yang berwarna warni di sekitar taman itu. Salah seorang adik angkat ku yang berada di Kuala Lumpur mengajak adik-adik Pramuka untuk menaiki ayunan yang berputar kencang. Malam itu tidak saja bermain tetapi mereka juga menikmati jajanan kecil di sekitar taman. Pukul 1.30 malam waktu setempat baru kami tiba di rumah, waaahhh senang sekali mereka hingga langsung tertidur lelap malam itu. (Terima kasih Ashraf...).
15 November pada sore harinya kami berangkat menuju LRT Taman Bahagia untuk bersama-sama berkumpul di KL Sentral berangkat ke langkawi menggunakan kereta api. Pengalaman berharga juga buat adik-adik di negara maju seperti Malaysia, membeli tiket menggunakan mesin dan masuk ke dalam setasiun, mereka senang sekali ketika harus menempelkan koin lalu terbuka pintu dengan sendirinya.
Setibanya di KL Sentral, kami bertemu dengan rombongan lainya, yaitu SKTTDI 1, SK Kementah, SK Seri Saujana, SK Setapak Indah, SMK Damansara dan SMK Victoria. Bertambah lagi saudara kami yang berawal dari SKTTDI 1, kini bertambah banyak lagi yang saya kenal. Dengan semangat adik-adik Pramuka bergabung dengan teman-teman mereka dari Kuala Lumpur, saling memperkenalkan diri dan bersenda gurau dengan teman baru mereka.
16 November kami tiba di Kuala Perlis, kemudian kami meneruskan perjalanan menggunakan Bus dan di bawa menuju salah satu mesjid besar di kuala Perlis, berhenti sejenak untuk mandi dan makan pagi di tempat itu sambil membagi kelompok. Di sana adik-adik Pramuka di bagikan kelompok dengan dalam satu kelompok terdapat Pramuka dari Indonesia dan Pengakap dari Malaysia, mereka berbaur jadi satu dalam kelompok mereka masing-masing.
Dari mesjid kami meneruskan perjalanan menuju pelabuhan yang akan membawa kami ke Pulau Langkawi menggunakan kapal Ferry. Satu per satu Pramuka dan Pengakap membawa Koper serta Backpack mereka menuju kapal Ferry bahagia yang akan membawa kami menju pulau Langkawi.
Di dalam Kapal Ferry berbagai permainan Pramuka dan Pengakap di pertunjukan bergantian menambah keakraban kami yang kala itu baru saja bertemu dengan saudara baru kami. Pramuka dari Jakarta Timur menampilkan nyanyian dan Pramuka dari Jakarta Barat mempertunjukan tepukan 1 hingga tepukan 5. sedangakan Pengakap dengan ke khasanya mempertunjukan nyayian mereka yang berlogat Melayu.
Setibanya di Langkawi dengan semangat sekali adik-adik Pramuka kembali mendorong koper mereka dan menyandang ransel mereka berjalan hingga pelabuhan kecil yang berjarak kurang lebih 1 Km, menuju kapal boot akan membawa kami ke pulau tuba (waahh... salut deh buat mereka walaupun sesekali mengeluh cape dan haus tetapi mereka tetap bahagia menjalaninya) bertambah terlihat kemandirian mereka tanpa ayah dan ibu yang biasanya mereka andalkan untuk membawa tas-tas mereka. Dari perjalanan ini mereka belajar mandiri untuk mengurus barang-barang mereka masing-masing, anak manja bisa menjadi begitu mandiri, anak pendiam bisa menjadi gaul karena banyak teman dan anak pelit bisa belajar berbagi dan saling membantu sesamanya.
Sampai di Pulau tuba setelah menjalani perjalanan di laut lepas selama kurang lebih satu jam, kami langsung di bawa menuju SK Tuba untuk bertemu dengan keluarga angkat yangsudah menunggu kami. Setelah tiba di SK Tuba melalu acara pembukaan sederhana kami adik-adik Pramuka di perkenalkan oleh orang tua dan keluarga angkat mereka yang sederhana, kemudian kami yang dewasa di persilahkan untuk kembali ke celet, sebuah penginapan di tepi pantai yang sudah di persiapkan oleh panitia.
17 November kami bangun pagi dengan semangat kami bertemu kembali di SK Tuba untuk menjalani aktivitas pagi itu yang rencananya akan menuju sebuah pulau yang bernama Selat Bagan Nyior, di sana kami akan menanam Bakau, menyeberangi laut lepas lagi dengan boot menuju tempat yang kami tuju itu sekitar 45 menit. Sesampainya di sana dengan semangat kerja sama setiap anak-anak dan orang dewasa bekerja sama bahu membahu menanam bakau di lahan seluas 1 hektar. Bertelanjang kaki, menyusuri lumpur yang kadang-kadang setinggi lutut, terkadang terinjak ranting-ranting kayu yang bertebaran dan melintasi sarang-sarang kepiting kecil-kecil tak menyurutkan rasa gembira anak-anak Pramuka dan Pengakap yang masih kecil-kecil itu. Selesai menanam Bakau kami menuju sungai kecil untuk mencuci tangan, di sana tak henti rasa ceria adik-adik kembali mereka bermain dengan air yang menggenang di sungai kecil tempat mereka mencuci tangan itu yang membuat tubuh mereka kator dan basah.
Karena basah dan kotornya kami setelah menanam Bakau, kami pun kembali ke dalam boot meneruskan perjalanan kembali melintasi lautan lepas menuju pulau lainya untuk bermain di pantai pasir putih, sesampainya di saya saya menyarankan adik-adik untuk makan dulu sebelum mereka menceburkan diri mereka ke pantai yang indah. Ternyata anak-anak indonesia memang sudah terlatih untuk kreatif. Mereka bersendagurau membuat tumpukan pasir menjadi istana dan terkadang mereka mengubur tubuh mereka dengan pasir. Karena tingkah mereka yang kreatif tersebut akhirnya pihak panitia dari Malaysia mendapat ide untuk membuat lomba bagi anak-anak. Mereka di bagi peregu untuk berlomba membuat istana pasir, dengan semangat mereka berkerja sama membuat istana seindah mungkin, melindungi istana mereka dari ombak yang silih berganti singgah di bibir pantai merupakan pemandangan indah akan kebahagiaan bocah-bocah kecil yang tak terlupakan.
Kembali ke pulau tuba di barengi oleh hujan yang lebat kami melintasi laut lepas, baju yang basah dan kotor serta tubuh yang kedinginan tak menyurutkan muka-muka ceria di wajah adik-adik. Hari itu mereka sudah belajar menjadi Duta lingkungan dengan menanam Bakau, Belajar bekerja sama tanpa melihat batasan usia dan berbagai jenis latar belakang. Menumbuh kembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan tanpa melihat kepentingan politik, ras dan agama sangat menyenangkan buat mereka.
18 November kami kembali bertemu di SK Tuba, pagi itu rencananya ada permainan untuk anak-anak dan acara bergotong royong membersihkan lingkungan. Ibu-ibu orang tua murid memasak pangan yang lezat, Bapak-bapak orang tua murid memetik buah kelapa dengan moyet mereka dan membukanya untuk kemudian di ramu menjadi minuman segar, guru-guru dan anak-anak murit berlarian membersihkan lingkungan di sekitar sekolah . selepas lelah bermain dan bersama-sama membersihkan lingkungan mereka di suguhi berbagai pangan khas nelayan pulau Tuba yang sudah di masak oleh ibu-ibu angkat mereka dan minuman segar yang sudah di ramu oleh bapak-bapak angkat mereka. Segarnyaaaaa........!!!!
Malam harinya kami berkumpul untuk pentas seni ala nelayan pulau Tuba, dengan panggung sederhana adik-adik pramuka tak kalah exis menampilkan tarian tradisional, Pramuka dari Jakarta Timur membawakan tarian berasal dari Sumatera Utara dan Pramuka dari Jakarta Barat menampilkan tarian dari Sumatera Barat. Di pinggir pantai tak jauh dari panggung pentas seni di buat api unggun dan beberapa tenda kecil tempat kami membakar ikan, jagung serta sosis. Riuh gembira terdengar dari gelak dan tawa anak-anak Pramuka dan Pengakap yang sudah menyatu dan bersahabat. Malam itu adalah malam terakhir bagi kami untuk bisa bersama-sama dan bergurau, saat-saat itu di manfaatkan adik-adik Pramuka dan Pengakap untuk saling bertukaran atribut Scout mereka, seperti dasi, Topi dan Bet lokasi mereka sebagai kenang-kenangan yang akan mereka bawa sebagai tanda persahabatan diantara mereka.
19 November hari yang menharukan, saatnya kami berpamitan dengan keluarga angkat yang sudah bersama dengan kami beberapa hari ini sangat lah memberatkan hati. Terlihat pelukan hangat dan genangan air mata menghiasi saat-saat perpisahan itu, beberapa hari yang mengesankan buat kami bisa berada di dalam kesederhanaan lingkungan keluarga nelayan pulau Tuba, keluarga angkat kami yang entah kapan bisa kami jumpai lagi. terima kasih bapak......terima kasih ibu....kami pulang kenegri kami untuk membawa kenangan manis bersama kalian, membawa kesederhanaan dan kepolosan kehidupan nelayan yang begitu indah terima kasih....sampai jumpa lagi.....!!!
Kembali menyeberangi lautan lepas menuju langkawi kami menaiki boat, sesampainya di sana kami dibawa menuju bus yang akan menghantar kami menuju tempat wisata yaitu Cable car Langkawi, sesampainya di sana kami berbaris untuk naik cable car. Dengan melintasi diatas hutan yang lebat dan ngarai-ngari sungai yang berliku-liku serta air terjun yang indah terlihat alami sekali bagaikan terbang di atas langit, dari bukit ke bukit kami susuri. Terkadang rasa takut akan ketinggian membuat adik-adik merinding ketakutan untuk menghilangkan rasa takut kami bernyanyi bersama hingga sekitar kurang lebih 30 menit kami tiba di atas gunung yang sudah di buat bertingkat-tingkat sebagai menara pemandangan yang indah. Sungguh indah pemandangan dari atas gunung itu bagai berada di atas awan kami duduk pada sebuah cafe yang begitu apik di buat, dingin di barengi oleh hujan dan angin menambah nikmat burger serta minuman hangat yang menemani kami di atas sana.
Puas bermain di tempat wisata cable car langkawi, kami pergi menuu tempat berbelanja yang merupakan kawasan bebas cukai atau bebas pajak, di sana adik-adik Pramuka di puaskan oleh berbagai macam panganan dan barang yang lucu serta aneh dengan harga murah tanpa cukai atau pajak. Setelah puas berbelanja kami kembali di bawa menuju pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Kuala perlis dan kemudian kembali ke Kuala Lumpur dengan Bus.
20 November kami tiba di Kuala Lumpur pada pukul 5 pagi waktu Kuala Lumpur, Kami kemudian beristirahat sejenak di sebuah rumah salah satu guru di Kuala Lumpur (terima kasih abang dan kakak). setelah beristirahat sejenak dan mandi membersihkan diri kami di bawa berkeliling kota Kuala Lumpur, Berawal menuju Musium Negara. Di dalam sana kami mempelajari berbagai macam sejarah peradaban Malaysia, dan yang menarik buat adik-adik adalah Touch Screen games yang di sediakan oleh Musum Negara menambah pengetahuan anak-anak sambil bergembira bermain games.
Dari Musium Negara kami bergerak menuju Planetarium Negara, Di sana kami bermain di dalam gedung sama seperti di Musium negara mereka tertarik oleh Touch Screen Games yang menyangkut antariksa, menaiki suatu tempat yang menggambarkan gravitasi dan sebuah cinema 4 Dimensi yang menerangkan tentang gravitasi bumi serta antariksa dengan Cartoon lucu yang membuat anak-anak betah untuk melihatnya dan secara tidak langsung mereka sudah menambahkan pengetahuan mereka tentang bumi dan antariksa.
Dari Planetarium kami menuju Tugu Peringatan Negara, sebuah tugu peringatan untuk mengenang jasa-jasa para pejuang bangsa dan negara Malaysia. Kami meneruskan perjalanan menuju KLCC di tengah perjalanan adik-adik tertarik untuk mengunjungi Masjid Negara yang kemudian berhenti pula di Parilimen Negara. sejenak kami berhenti untk bermain dan mengambil beberapa gambar di sana dan kemudian meneruskan perjalanan menuju KLCC.
KLCC merupaka Menara Kembar yang menjadi Icon penting harus di kunjungi setiap pelancong yang datang ke Kuala Lumpur. Kalau belum kesana belum ke Malaysia katanya ha.ha.ha....psssttt sepertinya saya sudah puas untuk datang kesana setiap kali he.he.he..., tetapi demi adik-adik yang belum pernah ke sana dengan senang hati saya menemani mereka, mengambil beberapa gambar di taman yang berlatar menara kembar. Seperti dugaan saya setiap anak pasti tertarik dengan tulisan yang terdapat di Mall yang berada di dalam menara kembar itu yaitu I-SETAN. Langsung adik-adik berteriaaak....IIIIIII......SEEETTTTAAANNNN...... ada setan kaaaakkk.... teriak mereka. Serentak kami tertawa lebar, salah satu Cikgu yang mendampingi kami menjelaskan bahwa itu nama salah satu toko yang berada di sana, jangan di baca dengan ejaan Indonesia (Bahasa) tetapi ucapkan dengan ejaan English.
Malam hari setelah puas berjalan-jalan di sekitar Kuala Lumpur, kami berjalan berkeliling wilayah Taman Tun Dr. Ismal yang merupakan tempat kami beristirahat di rumah Cikgu. Dengan berjalan kaki kami bersenda gurau sambil sesekali mengambil suasana malam di sana pada beberapa jalan yang kami lalui di seputar komplek pemukiman penduduk. Kami berhenti untuk mencoba 7 & 11 di Kuala Lumpur, tak sama dengan di Jakarta 7 & 11 di sana tak terdapat tempat duduk untuk nongkrong anak-anak muda pada umumnya, tetapi untuk makanan yang di sajikan hampir sama dengan yang berada di Jakarta. Sehabis membeli makanan kami duduk bersama di sekitar anak tangga depan 7 & 11.
21 November, Kami bangun pagi-pagi untuk bersiap menuju SK Kementah yang merupakan sekolah yang berniat untuk berkembar dengan kami dalam hal aktivitas Pramuka, pukul 7 pagi kami bergegas menuju Lobi Hotel menunggu jemputan menuju SK Kementah. Memasuki wilayah perkomplekan kementerian pertahana atau kalau di Indonesia komplek perumahan tentara. Seperti biasanya suasana tentara terlihat kental di sana, di dalam komplek itu terdapat sekolah SK Kementah yang megah berkisar 3 Hektar, dengan gedung bertingkat 4 dan lapangan Luas menambah kagum kami akan pembangunan pendidikan di Malaysia. Bayangkan untuk setingkat sekolah yang mereka bilang jelek saja kami sudah di buat kagum oleh pembangunan yang megah dan lengkap fasilitas itu, sementara di jakarta luas sekolah berluas 1 hektar saja bisa di diami oleh 4 sekolah dengan lapangan sekolah yang minim dan fasilitas yang masih termasuk kurang. Bisa di gambarkan tingkat sekolah jelek menurut mereka di Kuala Lumpur setingkat dengan fasilitas sekolah bertaraf RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Indonesia. Jauh sekali kalau di rasa untuk pembangunan pendidikan di Indonesia, tetapi itu sudah menjadi urusan pemerintah untuk lebih giat lagi mengejar ketertinggalan.
Selepas mengunjungi SK Kementah kami kembali di bawa berkeliling Kuala Lumpur, siang itu kami mengunjungi Putera Jaya, di sana kami bermain sejenak menikmati keindahan danau buatan tan mengunungi Mesjid yang di dalamnya terdapat dua tempat ibadah bagi umat Islam dan Budha, entah mengapa bisa begitu saya lupa menanyakan he.he.he..., pada dasarnya kami yang tidak menggunakan pakaian muslim yaitu berkerudung dan panjang harus menggunakan kostum atau jubah berwarna pink, tetapi karena mereka masih anak-ank hal itu tak menjadi permasalahan, mereka tetap bisa masuk dan mengambil beberapa gambar di sana.
Pulang kembali ke Hotel kami kembali di jemput oleh keluarga angkat saya di Kuala Lumpur yaitu Bunda Sa'diah dan anak-anaknya, kami dibawa kembali menikmati KLCC di tengah malam, dengan air mancur bergoyang yang di hiasi lampu berwarna warni, sungguh indah malam itu. Tak lupa kami pun di bawa makan malam bersama di sebuah restoran Indonesia yang berada di dalam menara kembar yaitu Bumbu Desa.
22 November, nyeyank tidur dalam kebahagiaan bersama teman dan saudara angkat tak akan kami lupakan, saatnya kembali ke Jakarta....saatnya berpisah untuk jumpa lagi suatu hari...Terima kasih teman, sahabat, keluarga tersayang. Semoga saat-saat indah ini tak hanya berhenti sampai di sini, semoga persahabatan dan persaudaraan kita semakin erat dan mari kita bentang perdamaian di dunia ini tanpa kepentingan POLITIK, RAS, GOLONGAN dan AGAMA.
Kami lambaikan tangan dari kejauhan ketas sana untuk kemudian memasuki ruang Imigrasi di KLIA airpor Malaysia.....I'm Gonna Miss You All.... C....U.....!!!!!
14 November kami berangkat dari Jakarta pagi hari tiba di Kuala Lumpur pada pukul 1 siang waktu setempat, Sesampai di sana kami di sambut dengan baik oleh keluarga angkat ku. Satu hari kami menginap di rumahnya (terima kasih untuk keluarga Bapak Solehudin yang sudah begitu meriah menyambut kedatangan kami).
Malam harinya kami di bawa berjalan-jalan melihat kota Kuala Lumpur di waktu malam, kami pun berhenti pada sebuah taman yang di penuhi oleh pohon-pohon berlampu dan berbagai bentuk karakter bercahaya lampu. I-City Shah Alam. Indah sekali malam itu, adik adik Pramuka yang saya bawa sebenarnya sudah mengantuk dan sudah tertidur di mobil.Tetapi begitu melihat taman itu langsung mata mereka terbelalak dan terpesona melihat keindahan lampu yang berwarna warni di sekitar taman itu. Salah seorang adik angkat ku yang berada di Kuala Lumpur mengajak adik-adik Pramuka untuk menaiki ayunan yang berputar kencang. Malam itu tidak saja bermain tetapi mereka juga menikmati jajanan kecil di sekitar taman. Pukul 1.30 malam waktu setempat baru kami tiba di rumah, waaahhh senang sekali mereka hingga langsung tertidur lelap malam itu. (Terima kasih Ashraf...).
15 November pada sore harinya kami berangkat menuju LRT Taman Bahagia untuk bersama-sama berkumpul di KL Sentral berangkat ke langkawi menggunakan kereta api. Pengalaman berharga juga buat adik-adik di negara maju seperti Malaysia, membeli tiket menggunakan mesin dan masuk ke dalam setasiun, mereka senang sekali ketika harus menempelkan koin lalu terbuka pintu dengan sendirinya.
Setibanya di KL Sentral, kami bertemu dengan rombongan lainya, yaitu SKTTDI 1, SK Kementah, SK Seri Saujana, SK Setapak Indah, SMK Damansara dan SMK Victoria. Bertambah lagi saudara kami yang berawal dari SKTTDI 1, kini bertambah banyak lagi yang saya kenal. Dengan semangat adik-adik Pramuka bergabung dengan teman-teman mereka dari Kuala Lumpur, saling memperkenalkan diri dan bersenda gurau dengan teman baru mereka.
16 November kami tiba di Kuala Perlis, kemudian kami meneruskan perjalanan menggunakan Bus dan di bawa menuju salah satu mesjid besar di kuala Perlis, berhenti sejenak untuk mandi dan makan pagi di tempat itu sambil membagi kelompok. Di sana adik-adik Pramuka di bagikan kelompok dengan dalam satu kelompok terdapat Pramuka dari Indonesia dan Pengakap dari Malaysia, mereka berbaur jadi satu dalam kelompok mereka masing-masing.
Dari mesjid kami meneruskan perjalanan menuju pelabuhan yang akan membawa kami ke Pulau Langkawi menggunakan kapal Ferry. Satu per satu Pramuka dan Pengakap membawa Koper serta Backpack mereka menuju kapal Ferry bahagia yang akan membawa kami menju pulau Langkawi.
Di dalam Kapal Ferry berbagai permainan Pramuka dan Pengakap di pertunjukan bergantian menambah keakraban kami yang kala itu baru saja bertemu dengan saudara baru kami. Pramuka dari Jakarta Timur menampilkan nyanyian dan Pramuka dari Jakarta Barat mempertunjukan tepukan 1 hingga tepukan 5. sedangakan Pengakap dengan ke khasanya mempertunjukan nyayian mereka yang berlogat Melayu.
Setibanya di Langkawi dengan semangat sekali adik-adik Pramuka kembali mendorong koper mereka dan menyandang ransel mereka berjalan hingga pelabuhan kecil yang berjarak kurang lebih 1 Km, menuju kapal boot akan membawa kami ke pulau tuba (waahh... salut deh buat mereka walaupun sesekali mengeluh cape dan haus tetapi mereka tetap bahagia menjalaninya) bertambah terlihat kemandirian mereka tanpa ayah dan ibu yang biasanya mereka andalkan untuk membawa tas-tas mereka. Dari perjalanan ini mereka belajar mandiri untuk mengurus barang-barang mereka masing-masing, anak manja bisa menjadi begitu mandiri, anak pendiam bisa menjadi gaul karena banyak teman dan anak pelit bisa belajar berbagi dan saling membantu sesamanya.
Sampai di Pulau tuba setelah menjalani perjalanan di laut lepas selama kurang lebih satu jam, kami langsung di bawa menuju SK Tuba untuk bertemu dengan keluarga angkat yangsudah menunggu kami. Setelah tiba di SK Tuba melalu acara pembukaan sederhana kami adik-adik Pramuka di perkenalkan oleh orang tua dan keluarga angkat mereka yang sederhana, kemudian kami yang dewasa di persilahkan untuk kembali ke celet, sebuah penginapan di tepi pantai yang sudah di persiapkan oleh panitia.
17 November kami bangun pagi dengan semangat kami bertemu kembali di SK Tuba untuk menjalani aktivitas pagi itu yang rencananya akan menuju sebuah pulau yang bernama Selat Bagan Nyior, di sana kami akan menanam Bakau, menyeberangi laut lepas lagi dengan boot menuju tempat yang kami tuju itu sekitar 45 menit. Sesampainya di sana dengan semangat kerja sama setiap anak-anak dan orang dewasa bekerja sama bahu membahu menanam bakau di lahan seluas 1 hektar. Bertelanjang kaki, menyusuri lumpur yang kadang-kadang setinggi lutut, terkadang terinjak ranting-ranting kayu yang bertebaran dan melintasi sarang-sarang kepiting kecil-kecil tak menyurutkan rasa gembira anak-anak Pramuka dan Pengakap yang masih kecil-kecil itu. Selesai menanam Bakau kami menuju sungai kecil untuk mencuci tangan, di sana tak henti rasa ceria adik-adik kembali mereka bermain dengan air yang menggenang di sungai kecil tempat mereka mencuci tangan itu yang membuat tubuh mereka kator dan basah.
Karena basah dan kotornya kami setelah menanam Bakau, kami pun kembali ke dalam boot meneruskan perjalanan kembali melintasi lautan lepas menuju pulau lainya untuk bermain di pantai pasir putih, sesampainya di saya saya menyarankan adik-adik untuk makan dulu sebelum mereka menceburkan diri mereka ke pantai yang indah. Ternyata anak-anak indonesia memang sudah terlatih untuk kreatif. Mereka bersendagurau membuat tumpukan pasir menjadi istana dan terkadang mereka mengubur tubuh mereka dengan pasir. Karena tingkah mereka yang kreatif tersebut akhirnya pihak panitia dari Malaysia mendapat ide untuk membuat lomba bagi anak-anak. Mereka di bagi peregu untuk berlomba membuat istana pasir, dengan semangat mereka berkerja sama membuat istana seindah mungkin, melindungi istana mereka dari ombak yang silih berganti singgah di bibir pantai merupakan pemandangan indah akan kebahagiaan bocah-bocah kecil yang tak terlupakan.
Kembali ke pulau tuba di barengi oleh hujan yang lebat kami melintasi laut lepas, baju yang basah dan kotor serta tubuh yang kedinginan tak menyurutkan muka-muka ceria di wajah adik-adik. Hari itu mereka sudah belajar menjadi Duta lingkungan dengan menanam Bakau, Belajar bekerja sama tanpa melihat batasan usia dan berbagai jenis latar belakang. Menumbuh kembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan tanpa melihat kepentingan politik, ras dan agama sangat menyenangkan buat mereka.
18 November kami kembali bertemu di SK Tuba, pagi itu rencananya ada permainan untuk anak-anak dan acara bergotong royong membersihkan lingkungan. Ibu-ibu orang tua murid memasak pangan yang lezat, Bapak-bapak orang tua murid memetik buah kelapa dengan moyet mereka dan membukanya untuk kemudian di ramu menjadi minuman segar, guru-guru dan anak-anak murit berlarian membersihkan lingkungan di sekitar sekolah . selepas lelah bermain dan bersama-sama membersihkan lingkungan mereka di suguhi berbagai pangan khas nelayan pulau Tuba yang sudah di masak oleh ibu-ibu angkat mereka dan minuman segar yang sudah di ramu oleh bapak-bapak angkat mereka. Segarnyaaaaa........!!!!
Malam harinya kami berkumpul untuk pentas seni ala nelayan pulau Tuba, dengan panggung sederhana adik-adik pramuka tak kalah exis menampilkan tarian tradisional, Pramuka dari Jakarta Timur membawakan tarian berasal dari Sumatera Utara dan Pramuka dari Jakarta Barat menampilkan tarian dari Sumatera Barat. Di pinggir pantai tak jauh dari panggung pentas seni di buat api unggun dan beberapa tenda kecil tempat kami membakar ikan, jagung serta sosis. Riuh gembira terdengar dari gelak dan tawa anak-anak Pramuka dan Pengakap yang sudah menyatu dan bersahabat. Malam itu adalah malam terakhir bagi kami untuk bisa bersama-sama dan bergurau, saat-saat itu di manfaatkan adik-adik Pramuka dan Pengakap untuk saling bertukaran atribut Scout mereka, seperti dasi, Topi dan Bet lokasi mereka sebagai kenang-kenangan yang akan mereka bawa sebagai tanda persahabatan diantara mereka.
19 November hari yang menharukan, saatnya kami berpamitan dengan keluarga angkat yang sudah bersama dengan kami beberapa hari ini sangat lah memberatkan hati. Terlihat pelukan hangat dan genangan air mata menghiasi saat-saat perpisahan itu, beberapa hari yang mengesankan buat kami bisa berada di dalam kesederhanaan lingkungan keluarga nelayan pulau Tuba, keluarga angkat kami yang entah kapan bisa kami jumpai lagi. terima kasih bapak......terima kasih ibu....kami pulang kenegri kami untuk membawa kenangan manis bersama kalian, membawa kesederhanaan dan kepolosan kehidupan nelayan yang begitu indah terima kasih....sampai jumpa lagi.....!!!
Kembali menyeberangi lautan lepas menuju langkawi kami menaiki boat, sesampainya di sana kami dibawa menuju bus yang akan menghantar kami menuju tempat wisata yaitu Cable car Langkawi, sesampainya di sana kami berbaris untuk naik cable car. Dengan melintasi diatas hutan yang lebat dan ngarai-ngari sungai yang berliku-liku serta air terjun yang indah terlihat alami sekali bagaikan terbang di atas langit, dari bukit ke bukit kami susuri. Terkadang rasa takut akan ketinggian membuat adik-adik merinding ketakutan untuk menghilangkan rasa takut kami bernyanyi bersama hingga sekitar kurang lebih 30 menit kami tiba di atas gunung yang sudah di buat bertingkat-tingkat sebagai menara pemandangan yang indah. Sungguh indah pemandangan dari atas gunung itu bagai berada di atas awan kami duduk pada sebuah cafe yang begitu apik di buat, dingin di barengi oleh hujan dan angin menambah nikmat burger serta minuman hangat yang menemani kami di atas sana.
Puas bermain di tempat wisata cable car langkawi, kami pergi menuu tempat berbelanja yang merupakan kawasan bebas cukai atau bebas pajak, di sana adik-adik Pramuka di puaskan oleh berbagai macam panganan dan barang yang lucu serta aneh dengan harga murah tanpa cukai atau pajak. Setelah puas berbelanja kami kembali di bawa menuju pelabuhan untuk menyeberang kembali ke Kuala perlis dan kemudian kembali ke Kuala Lumpur dengan Bus.
20 November kami tiba di Kuala Lumpur pada pukul 5 pagi waktu Kuala Lumpur, Kami kemudian beristirahat sejenak di sebuah rumah salah satu guru di Kuala Lumpur (terima kasih abang dan kakak). setelah beristirahat sejenak dan mandi membersihkan diri kami di bawa berkeliling kota Kuala Lumpur, Berawal menuju Musium Negara. Di dalam sana kami mempelajari berbagai macam sejarah peradaban Malaysia, dan yang menarik buat adik-adik adalah Touch Screen games yang di sediakan oleh Musum Negara menambah pengetahuan anak-anak sambil bergembira bermain games.
Dari Musium Negara kami bergerak menuju Planetarium Negara, Di sana kami bermain di dalam gedung sama seperti di Musium negara mereka tertarik oleh Touch Screen Games yang menyangkut antariksa, menaiki suatu tempat yang menggambarkan gravitasi dan sebuah cinema 4 Dimensi yang menerangkan tentang gravitasi bumi serta antariksa dengan Cartoon lucu yang membuat anak-anak betah untuk melihatnya dan secara tidak langsung mereka sudah menambahkan pengetahuan mereka tentang bumi dan antariksa.
Dari Planetarium kami menuju Tugu Peringatan Negara, sebuah tugu peringatan untuk mengenang jasa-jasa para pejuang bangsa dan negara Malaysia. Kami meneruskan perjalanan menuju KLCC di tengah perjalanan adik-adik tertarik untuk mengunjungi Masjid Negara yang kemudian berhenti pula di Parilimen Negara. sejenak kami berhenti untk bermain dan mengambil beberapa gambar di sana dan kemudian meneruskan perjalanan menuju KLCC.
KLCC merupaka Menara Kembar yang menjadi Icon penting harus di kunjungi setiap pelancong yang datang ke Kuala Lumpur. Kalau belum kesana belum ke Malaysia katanya ha.ha.ha....psssttt sepertinya saya sudah puas untuk datang kesana setiap kali he.he.he..., tetapi demi adik-adik yang belum pernah ke sana dengan senang hati saya menemani mereka, mengambil beberapa gambar di taman yang berlatar menara kembar. Seperti dugaan saya setiap anak pasti tertarik dengan tulisan yang terdapat di Mall yang berada di dalam menara kembar itu yaitu I-SETAN. Langsung adik-adik berteriaaak....IIIIIII......SEEETTTTAAANNNN...... ada setan kaaaakkk.... teriak mereka. Serentak kami tertawa lebar, salah satu Cikgu yang mendampingi kami menjelaskan bahwa itu nama salah satu toko yang berada di sana, jangan di baca dengan ejaan Indonesia (Bahasa) tetapi ucapkan dengan ejaan English.
Malam hari setelah puas berjalan-jalan di sekitar Kuala Lumpur, kami berjalan berkeliling wilayah Taman Tun Dr. Ismal yang merupakan tempat kami beristirahat di rumah Cikgu. Dengan berjalan kaki kami bersenda gurau sambil sesekali mengambil suasana malam di sana pada beberapa jalan yang kami lalui di seputar komplek pemukiman penduduk. Kami berhenti untuk mencoba 7 & 11 di Kuala Lumpur, tak sama dengan di Jakarta 7 & 11 di sana tak terdapat tempat duduk untuk nongkrong anak-anak muda pada umumnya, tetapi untuk makanan yang di sajikan hampir sama dengan yang berada di Jakarta. Sehabis membeli makanan kami duduk bersama di sekitar anak tangga depan 7 & 11.
21 November, Kami bangun pagi-pagi untuk bersiap menuju SK Kementah yang merupakan sekolah yang berniat untuk berkembar dengan kami dalam hal aktivitas Pramuka, pukul 7 pagi kami bergegas menuju Lobi Hotel menunggu jemputan menuju SK Kementah. Memasuki wilayah perkomplekan kementerian pertahana atau kalau di Indonesia komplek perumahan tentara. Seperti biasanya suasana tentara terlihat kental di sana, di dalam komplek itu terdapat sekolah SK Kementah yang megah berkisar 3 Hektar, dengan gedung bertingkat 4 dan lapangan Luas menambah kagum kami akan pembangunan pendidikan di Malaysia. Bayangkan untuk setingkat sekolah yang mereka bilang jelek saja kami sudah di buat kagum oleh pembangunan yang megah dan lengkap fasilitas itu, sementara di jakarta luas sekolah berluas 1 hektar saja bisa di diami oleh 4 sekolah dengan lapangan sekolah yang minim dan fasilitas yang masih termasuk kurang. Bisa di gambarkan tingkat sekolah jelek menurut mereka di Kuala Lumpur setingkat dengan fasilitas sekolah bertaraf RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Indonesia. Jauh sekali kalau di rasa untuk pembangunan pendidikan di Indonesia, tetapi itu sudah menjadi urusan pemerintah untuk lebih giat lagi mengejar ketertinggalan.
Selepas mengunjungi SK Kementah kami kembali di bawa berkeliling Kuala Lumpur, siang itu kami mengunjungi Putera Jaya, di sana kami bermain sejenak menikmati keindahan danau buatan tan mengunungi Mesjid yang di dalamnya terdapat dua tempat ibadah bagi umat Islam dan Budha, entah mengapa bisa begitu saya lupa menanyakan he.he.he..., pada dasarnya kami yang tidak menggunakan pakaian muslim yaitu berkerudung dan panjang harus menggunakan kostum atau jubah berwarna pink, tetapi karena mereka masih anak-ank hal itu tak menjadi permasalahan, mereka tetap bisa masuk dan mengambil beberapa gambar di sana.
Pulang kembali ke Hotel kami kembali di jemput oleh keluarga angkat saya di Kuala Lumpur yaitu Bunda Sa'diah dan anak-anaknya, kami dibawa kembali menikmati KLCC di tengah malam, dengan air mancur bergoyang yang di hiasi lampu berwarna warni, sungguh indah malam itu. Tak lupa kami pun di bawa makan malam bersama di sebuah restoran Indonesia yang berada di dalam menara kembar yaitu Bumbu Desa.
22 November, nyeyank tidur dalam kebahagiaan bersama teman dan saudara angkat tak akan kami lupakan, saatnya kembali ke Jakarta....saatnya berpisah untuk jumpa lagi suatu hari...Terima kasih teman, sahabat, keluarga tersayang. Semoga saat-saat indah ini tak hanya berhenti sampai di sini, semoga persahabatan dan persaudaraan kita semakin erat dan mari kita bentang perdamaian di dunia ini tanpa kepentingan POLITIK, RAS, GOLONGAN dan AGAMA.
Kami lambaikan tangan dari kejauhan ketas sana untuk kemudian memasuki ruang Imigrasi di KLIA airpor Malaysia.....I'm Gonna Miss You All.... C....U.....!!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)






















